in

Ahmad Rhang Manyang – Cerita Rakyat Aceh

Ahmad Rhang Manyang merupakan cerita rakyat Aceh yang berasal dari daerah Krueng Peusangan. Cerita ini hampir mirip dengan Malin Kundang yang berasal dari Sumatra Barat, ataupun Legenda Pulau Si Kantan dari Sumatra Utara. Semoga cerita ini dapat memberikan hikmah bagi para pembaca khususnya kaum muda. Mari kita simak cerita rakyat Aceh yang berjudul Ahmad Rhang Manyang.
Ahmad Rhang Manyang, Cerita Rakyat Aceh
Di sebuah desa yang terletak dekat dengan Krueng (Sungai) Peusangan, tinggalah seorang anak remaja bersama seorang ibunya yang telah tua renta. Anak tersebut bernama Ahmad Rhang Manyang. Ahmad merupakan pemuda yang rajin, taat beribadah, berbakti kepada ibunya dan memiliki wajah yang tampan rupawan. Ayahya telah lama tiada, untuk itu dia mencari nafkah menjadi buruh tani untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari.
Ahmad merupakan seorang pemuda yang selalu bersyukur kepada Allah SWT, akan tetapi dia tidak tega melihat keadaan ibunya yang telah tua renta dan memiliki kehidupan yang sangat sederhana. Ahmad ingin membahagiakan orang tuanya. Dia ingin membuat hati ibunya aman tentram dengan pakaian yang layak, makanan yang sehat, serta tempat tinggal yang baik. Konon, Ahmad dan ibunya hanya tinggal di gubuk bambu yang tidak layak untuk dihuni. Terlebih, mereka hanya memakan nasi beserta lauk seadanya. Mereka hanya memiliki pakaian secukupnya, dan itu pun telah dipenuhi tambalan dan jahitan. Dengan kondisi demikian, Ahmad ingin pergi jauh merantau demi membahagiakan ibunya.
Ahmad tau bahwa jika dia pergi merantau tentulah ibunya hanya tinggal sendirian di gubuk tua. Akan tetapi, keadaan yang menimpa diri mereka sangat memprihatinkan, mau tidak mau Ahmad harus merubah nasib. Dia ingin sekali meminta izin kepada ibunya untuk merantau demi memperbaiki nasib.
“Mak, izikan aku berbicara dengan Mamak mengenai nasib kita,” pinta Ahmad.
“Ada apakah gerangan, anakku ?” tanya sang ibu.
“Ahmad tau, bahwa kehidupan kita saat ini memang sangat sederhana. Bukannya Ahmad tidak bersyukur terhadap karunia Allah SWT, akan tetapi berusaha itu perlu. Bukankah bekerja itu juga ibadah ? Ahmad ingin membahagiakan hati Mamak dengan memberikan hasil yang lebih dari pekerjaan Ahmad. Untuk itu, Ahmad meminta izin kepada Mamak untuk pergi merantau demi memperbaiki nasib,” jelas Ahmad panjang lebar.
Mendengar penjelasan dari anak satu-satunya, sang ibu terkejut. Sebenarnya dia tidak mengizinkan anaknya pergi jauh. Beliau tau bahwa anaknya berniat baik untuk membahagiakan dirinya, akan tetapi dia tidak mau ditinggal sendiri.
“Anakku, biarlah kehidupan kita seperti ini adanya. Kehidupan di luar itu sangatlah keras. Aku tidak mau terjadi apa-apa terhadap dirimu. Lagipula, Mamak sudah tua, apakah kamu tega meninggalkan mamakmu yang telah tua renta ?” jelas sang Ibu.
Ahmad sedikit tersentak. Sebenarnya dia tidak mau meninggalkan ibunya sendirian. Ibunya pasti membutuhkan bantuannya. Namun, demi membuat ibunya bahagia, demi mendapatkan makanan yang layak, pakaian yang pantas, dan tempat tinggal yang nyaman, Ahmad harus berusaha sekuat tenaga untuk mencari pekerjaan ke luar desanya.
“Mak, Ahmad juga tidak tega meninggalkan Mamak sendirian. Tapi Mak, Ahmad ingin membahagiakan Mamak. Apakah Mamak hanya bisa menerima kehidupan seadanya ? makan dengan lauk sederhana, pakaian compang-camping, serta rumah yang telah mau rubuh. Ahmad tidak tega dengan keadaan kita, Mak. Ahmad harus berusaha agar kehidupan kita lebih baik lagi,” jelas Ahmad sampai menitikkan air mata.
Melihat raut wajah anaknya dan permintaan Ahmad yang telah kuat, sang ibu tidak mungkin menolak keinginan Ahmad. Dia tau bahwa Ahmad adalah pemuda yang sholeh dan pekerja keras. Dia tau bahwa anaknya mencintai ibunya dengan sepenuh hati. Mudah-mudahan, dengan upaya Ahmad untuk bekerja di rantau sana, memberikan hasil yang dapat membahagiakan mereka.
Sang ibu menitikkan air mata, sambil tercekat beliau berkata “Pergilah Nak, ibu ikhlas. Jaga dirimu baik-baik. Jangan lupa ibadah, selalu ingat kepada Allah SWT. Apabila engkau telah sukses nanti, cepatlah pulang, ibu sangat merindukanmu.”
Ahmad tersenyum sambil memandang ibunya yang telah tua renta. Dia bersyukur mendapatkan izin dari ibunya. Dia berjanji apabila telah sukses di rantau sana, dia akan segera pulang menemui sang ibu dan membahagiakannya.
Esoknya, Ahmad bergegas pergi ke negeri seberang untuk merantau demi memperbaiki nasib. Segala pelengkapan dia siapkan, tidak lupa alat sholat untuk memenuhi panggilan 5 waktu. Ibunya memberikan bekal dengan lauk sederhana. Ahmad benar-benar bersemangat untuk berangkat demi membahagiakan ibunya.
Di dermaga yang ada di daerah Krueng Peusangan, kedua ibu dan anak itu saling melepas kata perpisahan. Mereka menangis terharu bercampur sedih.
“Nak, ingatlah nasehat mamak. Kau jangan lupa sholat, berbuat baiklah dimana engkau berada. Janganlah engkau mengikuti hal-hal yang buruk jika ada di sekitarmu, tapi tularkanlah ilmu yang bermanfaat serta akhlak yang baik kepada orang di sekitarmu,” jelas sang ibu.
“Baik Mak, aku akan mengikuti nasehat Mamak. Jangan lupa doakan Ahmad agar sukses di rantau sana, supaya Ahmad bisa segera pulang dan dapat bertemu dengan Mamak,” Jelas Ahmad sambil menahan air mata.
Kapal pun telah membunyikan tanda untuk bersiap pergi. Anak dan ibu itu berpelukan untuk memberikan perpisahan. Ahmad mencium tangan emaknya dengan linangan air mata. Sang ibu pun tidak kuasa membendung air mata. Ahmad tidak lupa bersimpuh di kaki ibu yang telah melahirkannya ke dunia. Perpisahan itu membuat mereka mengerti akan berharganya kebersamaan yang dialui mereka selama ini. Kapal pun akhirnya meninggalkan Krueng Peusangan. Sang ibu selalu menatap ke arah kapal yang lambat laun hilang dari Krueng (Sungai) Peusangan, meninggalkan jejak berupa riak air di sungai itu. Sang ibu tidak berhentinya berdoa demi keselamatan dan kesuksesan putranya di negeri sana. Beliau akhirnya pulang ke gubuk tuanya, dengan perasaan sedih bercampur haru karena ditinggal pergi anak semata wayangnya.
Setelah sampai ke daerah yang dituju, Ahmad berusaha mencari pekerjaan untuk membahagiakan orang tuanya. Ahmad menjadi kuli pikul barang di dermaga. Ketekunan, kerajinan, dan kesopanannya, telah membuat Ahmad disenangi oleh atasannya. Ahmad sangat rajin bekerja, dia memiliki sifat yang jujur, selain itu Ahmad tidak lupa menunaikan ibadah dan berdoa.
Waktu demi waktu berlalu, Ahmad akhirnya naik jabatan dan dia pun telah menjadi pemuda sukses di negeri sana. Dia menjadi orang yang terpandang dan memiliki banyak harta kekayaan. Ahmad mempersunting seorang gadis cantik yang merupakan anak saudagar kaya di negeri itu. Ahmad menjadi orang yang sangat sibuk demi mengurus harta dunia, dia ternyata sudah lupa dengan panggilan sholat dan ibadah lainnya. Kehidupan Ahmad telah tergerus waktu akan kehidupan duniawi. Dia bekerja dan hidup hanya untuk harta dan limpahan kemawahan dunia.
Suatu hari, sang istri menemui Ahmad sambil berkata “Kakanda, aku ingin pergi ke kampung halaman Kakanda. Adinda ingin bertemu dengan orang tua Kakanda.”
Mendengar permintaan sang istri, membuat Ahmad tercekat.
“Kakanda sibuk, Adinda. Kakanda tidak punya waktu untuk mengunjungi orang tua kakanda,” Ahmad berkilah.
Sang istri merajuk “Dulu, Kakanda berjanji untuk mempertemukan dinda dengan orang tua Kakanda. Janji haruslah ditepati, Kakanda. Kapan adinda dipertemukan dengan mertua ?”
Melihat keinginan istrinya yang kuat, Ahmad pun luluh. Dia sebenarnya rindu dengan kampung halaman. Dia juga rindu dengan ibunya.
Menurut cerita rakyat Aceh, kapal mewah dan pengawal pun telah dipersiapkan Tuanku Ahmad Rhang Manyang. Kapal pun telah bersiap mengarungi samudera untuk menuju ke kampung halaman Ahmad. Lambat laun, akhirnya sang kapal menyentuh Krueng Peusangan. Daerah yang sangat indah dan dipenuhi hutan hijau di sekelilingnya, membuat Ahmad mulai melepas rindu akan kenangan masa kecilnya.
Setelah sampai ke daerah yang dituju, Ahmad mulai turun dari kapal beserta istri dan para pengawalnya. Para penduduk mulau berkumpul melihat siapa yang datang dengan kapal mewahnya. Ahmad menyapa beberapa orang yang dikenalnya, teman-temannya tidak lupa menyambut Ahmad dengan penuh suka cita. Ahmad melepas rindu bersama teman-teman dan orang yang dikenalnya.
Di lain tempat, Mak Minah yang merupakan ibu Ahmad mendengar kedatangan anaknya dengan sebuah kapal besar dan mewah. Sang ibu menitikan air mata kebahagiaan. Karena sang anak yang telah lama tak kunjung datang, akhirnya pulang dengan selamat dan mendapatkan keberhasilan.
Dengan langkah kaki yang tidak kuat lagi, Mak Minah tergopoh-gopoh ke dermaga Krueng Peusangan, demi menemui anak yang disayanginya. Tidak lupa dia membungkuskan makanan kesukaan Ahmad.
Hatinya berbunga tatkala melihat anak yang disayanginya ada di depan mata. Ahmad terlihat sehat dan bahagia beserta seorang istri yang cantik jelita. Dengan suara penuh kasih sayang, sang ibu memanggil Ahmad agar menoleh ke arahnya.
“Ahmad… Anakku, ini ibu Nak,” air mata Mak Minah meleleh seketika sambil memanggil anaknya.
Ahmad yang mendengar suara yang tidak asing lagi di telinganya sama sekali tidak menyahut. Dia tau bahwa itu adalah ibunya. Ibu yang terlihat sangat miskin dan tua renta. Padahal, dia menceritakan kepada istrinya bahwa dia adalah anak orang yang kaya raya. Bangsawan yang terpadang di daerah Krueng Peusangan. Sangat tidak mungkin jika dia menjawab panggilan dari ibunya dengan wajah tua dan pakaian yang compang-camping.
Sang ibu tidak putus asa, dia terus memanggil nama Ahmad. Beliau berusaha menyelinap di kerumunan massa yang tengah bahagia menerima bungkusan yang diberikan oleh Ahmad Rhang Manyang. Ahmad tetap tidak menoleh ke arah ibunya.
Sang istri yang mendengar panggilan Mak Minah, lalu memberitahu suaminya bahwa ada perempuan tua yang memanggil nama dirinya. Sang suami lalu mendekati Mak Minah dan berkata dengan keras dan kasar bahwa dia bukanlah anaknya.
“Aku bukanlah anakmu, perempuan tua !” kata Ahmad dengan sombongnya.
“Yaa Allah…, kau tidak mengakui bahwa aku ibumu, Ahmad ?” tanya Mak Minah tidak menyangka.
“Pengawal, tangap wanita ini dan buang jauh di hadapanku !” perintah Ahmad kepada pengawalnya.
Dengan sigap, para pengawal menangkap paksa sang ibu dan menyeretnya ke tempat yang jauh. Sang ibu berteriak kesakitan dan menangis sedih menerima perlakuan anak kandungnya. Para penduduk yang melihat kejadian itu terkejut dengan kelakuan Ahmad yang telah di luar batas kepada ibu kandungnya sendiri.
Sang ibu akhirnya menahan rasa sakit hati yang luar biasa. Beliau akhirnya berdoa kepada Allah SWT. Jika memang itu adalah anak semata wayangnya, Ahmad, dia meminta kepada Tuhan agar mengutuk anaknya menjadi sebuah bukit.
Tiba-tiba, angin menjadi ribut, petir menyambar-nyambar, air di Krueng Peusangan menjadi beriak dan bergulung-gulung. Anak durhaka yang bernama Ahmad Rhang Mayang akhirnya dikutuk menjadi bukit. Ahmad menerima ganjaran karena telah durhaka terhadap ibunya. Ahmad sempat menyesal dengan perbuatannya, namun sudah terlambat. Ahmad, istri, dan beserta para pengawal dan kapalnya akhirnya berubah menjadi sebuah bukit yang berada di Krueng Peusagan. Bukit itu masih tampak hingga sekarang. Oleh penduduk setempat, bukit itu bernama “Glee Kapal” atau Bukit Kapal.
Demikianlah cerita rakyat Aceh yang berjudul Ahmad Rhang Manyang. Semoga cerita ini dapat bermanfaat dan diambil hikmahnya bagi para pembaca. Terimakasih telah berkunjung di blog ini.
Cerita Rakyat Aceh lainnya:
  • Tujuh Anak Lelaki
  • Pangeran Amat Mude
  • Mentiko Betuah
  • Kisah Si Cabe Rawit

Garuda Wisnu Kencana, Cerita Rakyat Bali

Mentiko Betuah – Cerita Rakyat Aceh