in

Asia Tenggara di Piala Thomas dan Uber

Berbicara mengenai bulu tangkis sebenarnya identik dengan Asia Tenggara. Mengapa? Karena di olahraga tepok bulu asal Inggris inilah Asia Tenggara berjaya terutama di Piala Thomas dan Uber. Di ajang bulutangkis dua tahunan untuk putra dan putri itu Asia Tenggara termasuk region yang diperhitungkan, dan dari sinilah lahir para atlet bulutangkis dunia.

Layout

Di Piala Thomas adalah Indonesia dan Malaysia yang dianggap sebagai dua kekuatan bulu tangkis dunia di samping Cina, Jepang, dan Denmark. Kedua negara serumpun juga termasuk yang mengoleksi medali juara terbanyak. Apabila Malaysia sebanyak lima kali, Indonesia malah 13 kali, dan menjadi mengoleksi medali terbanyak di Piala Thomas.

Sejak awal diselenggarakan, Asia Tenggara memang sudah menunjukkan tajinya. Pada awal-awal penyelenggaraan Malaysia merupakan perwakilan Asia Tenggara yang pertama dan mampu mendominasi kejuaraan ini sebanyak tiga kali berturut-turut, yaitu pada 1949, 1952, dan 1955. Nama-nama seperti Wong Peng Soon, Ooi Teik Hock, dan Ong Poh Lim pun bermunculan menjadi legenda bulutangkis Malaysia ketika itu. Dominasi Malaysia selanjutnya dihentikan oleh Indonesia pada 1958. Pada ajang ini dari pihak Indonesia melahirkan nama-nama seperti Ferry Sonneville dan Tan Joe Hok. Selanjutnya Indonesia mendominasi ajang ini hingga kemudian dihentikan oleh Cina.

Dalam Piala Thomas untuk Asia Tenggara Indonesia dan Malaysia memang kerap bersaing. Akan tetapi Indonesia lebih unggul karena mampu mendominasi ajang ini empat kali berturut-turut pada dekade 70-an dan lima kali pada dekade 90-an hingga awal milenium. Indonesia dan Malaysia juga sudah bertemu sebanyak delapan kali di final. Dari jumlah pertemuan itu Indonesia unggul unggul enam kali sementara Malaysia dua kali.

Persaingan kedua negara di bulu tangkis juga sering dikaitkan dengan masalah ekonomi, sosial, dan politik yang menyinggung keduanya. Baik Indonesia dan Malaysia sudah tampil di Piala Thomas sebanyak 27 dan 19 kali.

Selain Indonesia dan Malaysia, negara Asia Tenggara lainnya yang juga eksis di Piala Thomas adalah Thailand. Namun prestasi Thailand tidak seperti keduanya. Dari keikutsertaan di Piala Thomas, Negeri Gajah Putih hanya mampu menjadi runner up pada 1961 setelah dikalahkan Indonesia. Namun perlu dicatat tim Thailand yang tampil kala itu adalah tim muda yang mampu menghancurkan Denmark di semifinal. Kedigdayaan Asia Tenggara di Piala Thomas juga dibarengi dengan penyelenggaraan yang kebanyakan berada di region ini sebanyak 19 kali. Dari jumlah itu Jakarta tampil sebanyak delapan kali, Kuala Lumpur enam kali, Singapura tiga kali, dan Bangkok dua kali.

Bagaimana dengan di Piala Uber?

Sebenarnya untuk Uber yang merupakan ajang untuk putri ini sejauh ini hanya Indonesia yang mampu bersaing dengan negara-negara seperti Cina, Jepang, dan Amerika Serikat. Di ajang Uber ini Indonesia baru tiga kali juara, yaitu pada 1975, 1994, 1996. Bandingkan dengan Cina yang sudah 14 kali. Lemahnya Asia Tenggara di bulu tangkis putri mengindikasikan program bulu tangkis lebih diprioritaskan untuk putra. Meski begitu untuk urusan penampilan Asia Tenggara tetap yang terdepan, yaitu melalui Indonesia sebanyak 24 kali, Malaysia 12 kali, dan Thailand lima.

Dari gambaran terlihat dengan prestasi-prestasi yang ditorehkan Asia Tenggara di bulu tangkis dunia, olahraga tepok bulu ternyata cukup sesuai dengan fisik orang-orang Asia Tenggara. Olahraga ini lebih mengutamakan kecepatan dan ketangkasan daripada ketahanan fisik, dengan luas lapangan permainan yang memang cocok dengan karakter orang-orang Asia. Karena itulah bulu tangkis menjadi olahraga populer di Asia Tenggara bersama dengan sepak bola.

Para Dewa-Dewi Padi di Asia Tenggara

Bahasa Vietnam, Bahasa Asia Tenggara yang Kecinaan