in

Hantu-hantu di Asia Tenggara – Asia Tenggara

Manusia dalam kehidupannya akan selalu bersanding dengan makhluk dari dunia lain. Yang dimaksud makhluk dari dunia lain sudah tentu makhluk tak kasat mata atau gaib. Makhluk ini sudah lebih dahulu ada daripada manusia. Umurnya bahkan melebihi umur manusia, yaitu hingga ribuan tahun. Namun tetap menjelang hari kiamat, mereka bakal juga disidang terkait perilaku, dan setelah itu ditaruh ke akhirat untuk menjalani kehidupan yang abadi.

Keberadaan makhluk gaib dalam sejarah perjalanan hidup manusia biasanya diabadikan dalam sebuah folklor atau cerita rakyat. Cerita ini berkembang dari lisan ke lisan lalu turun-temurun sehingga menjadi sesuatu yang harus dipercayai seperti untuk membuat patuh seseorang supaya tidak terkena hal-hal yang negatif. Di dalam kehidupan sehari-hari cerita mengenai makhluk gaib akan selalu diceritakan kepada anak-anak kecil supaya mereka tidak nakal sehingga mematuhi orang tua. Atau juga itu diceritakan sebagai pedoman keselamatan hidup seseorang dalam berperilaku dan bertindak. 

Di dalam dunia timur, keberadaan makhluk gaib mendapatkan tempat yang tertinggi. Ia bukan hanya diceritakan untuk menakut-nakuti tetapi juga supaya masyarakat sekitar tidak berbuat sembarangan. Ini misalnya yang terdapat pada kawasan yang dilarang dimasuki. Sebenarnya tujuannya itu positif, supaya manusia tidak merusak sehingga merugikan.

Di Asia Tenggara yang masih termasuk kawasan dunia timur juga begitu kental dengan keberadaan makhluk gaib. Mereka mengakar dalam lisan dan tulisan, serta mengakar dari generasi ke generasi. Tulisan saya kali ini akan berbicara mengenai makhluk gaib atau hantu di Asia Tenggara.

Asia Tenggara yang terbentang dari Myanmar hingga Indonesia memang kaya akan cerita-cerita tentang makhluk gaib. Makhluk-makhluk gaib di wilayah ini boleh dibilang mempunyai kesamaan, baik dalam bentuk maupun perilaku. Makhluk-makhluk ini juga akan kewalahan apabila dibacakan syair-syair atau mantera-mantera keagamaan yang intinya mengajak si makhluk taubat kembali menjadi baik. Sebab, pada dasarnya, makhluk gaib akan selalu dipersepsikan sebagai makhluk jahat yang suka meneror dan menyusahkan manusia dalam bentuk yang menyeramkan. Walaupun ada juga makhluk gaib yang baik. Namun itu segelintir. Dari semua itu, yang membedakan hanyalah nama.

Makhluk-makhluk gaib yang populer di Asia Tenggara kebanyakan berkelamin wanita, dan itu mewujud dalam bentuk kuntilanak, sundel bolong, kolong wewe, puntianak, phi tai hong, rangda, manananggal, aswang, dan langsuir. Hantu-hantu ini muasalnya dipercaya dari wanita yang hamil kemudian meninggal atau dibunuh alias mati tidak wajar. Mereka kemudian digolongkan sebagai hantu-hantu pembalas dendam terutama kepada laki-laki hidung belang atau yang membunuh mereka atau menculik anak kecil. Hantu-hantu yang juga bakal membalaskan perilaku tidak senonoh dari laki-laki kepada perempuan adalah nang tani dan nang ta-khian. Ini adalah hantu-hantu yang terkenal di Thailand, Laos, dan Kamboja. Mereka dipercaya menghuni pohon pisang.

Hantu-hantu berwujud wanita lainnya yang populer di Asia Tenggara adalah hantu yang berwujud kepala terbang dengan organ-organ tubuh yang menjuntai yang disebut dengan leyak, palasik, medi usus, kuyang, krasue, ahp, penanggalan, mai lai, poppo, kasu, dan parakang. Sebenarnya ini adalah hantu jadi-jadian alias manusia yang masih hidup berubah jadi hantu karena mempraktekkan ilmu hitam. Hantu ini dipercaya mengincar bayi atau anak kecil yang kemudian diambil organnya, serta mengisap darah demi memperlancar dan membuat abadi ilmu hitam yang dimiliki.

Selain hantu berwujud wanita, ada juga hantu berwujud pria di Asia Tenggara seperti genderuwo, hantu raya, orang minyak, tuyul, pocong, koman-tong, tiyanak, dan cohen kroh. Akan tetapi tetap saja lebih banyak hantu wanita mengingat begitu kuatnya budaya patriarki di kawasan ini yang selalu menjadikan wanita sebagai persona yang subordinat dan inferior.

Di beberapa tempat di Asia Tenggara beberapa hantu ada juga yang dibuatkan kuil seperti nang-nak di Thailand. Hantu yang berasal dari seorang wanita muda yang meninggal sewaktu melahirkan beserta juga anaknya ketika ditinggal perang oleh suaminya diberitakan meneror dan menyusahkan warga di Kanal Phra Kanong, Bangkok. Akibatnya, ia oleh beberapa biksu ia dimanterai dan dimasukkan ke botol, serta dihanyutkan ke sungai. Supaya tidak menganggu lagi, dibuatlah sebuah kuil untuk menenangkan arwahnya. Hal yang sama juga terdapat di Myanmar. Di negara ini mereka yang mati secara tidak wajar akan dijadikan sebagai nat, dengan dibuatkan persona serta kuil untuk menenangkan. Ada 37 nat di Myanmar. Salah satunya adalah Anawrahta, raja Pagan. 

Begitulah gambaran umum mengenai hantu-hantu di Asia Tenggara. Kondisi geografis serta iklim yang tidak jauh berbeda membuat satu dengan yang lainnya sama. Yang jelas, di kawasan ini hantu akan selalu dipersepsikan sebagai sesuatu yang jahat dan menyeramkan. Karena itu, mereka perlu dibasmi melalui ritual-ritual keagamaan.

 

Timor Leste: Si Lusophone di Asia Tenggara

ASEAN 50: Harapan Tetap Menjunjung Netralitas di Milenium Ketiga