kamudaponti: India dan Indonesia Berdikari: Negara Maju Bangkrut!

“Lah, kalau Indonesia maju, siapa yang beli
barang Jepang, Eropa, dan Amerika?!” dalam sebuah percakapan dengan seorang
teman.

“Dunia ibarat pizza” 

Demikianlah tercetus dalam diskusi
dengan seorang teman. Saya lalu berpikir, seperti apakah wajah dunia ini, bila
Indonesia berhasil maju dengan produk-produk anak negeri. Namun, saya ada
pesimis juga, melihat sejarah penjajahan dunia, yang rakus dan ganas. Siapa
yang beli produk negara maju, bila Indonesia sendiri berhasil maju? Pemikiran
itu, membawa saya menerawang, ke pelajaran-pelajaran sejarah yang pernah saya
dapat.

Imperialisme
Kuno

Ong Hok Ham, dalam kenangan
sahabat-sahabatnya, di buku Onze Ong, menuturkan setengah bercanda, bahwa
ibu-ibu turut berperan dalam menciptakan penjajahan dunia. Kenapa bisa
demikian?! Karena penjajahan awal, imperialisme, berasal dari kebutuhan dapur,
rempah-rempah. Harga barang tersebut di Eropa sangatlah tinggi, karena itu
bangsa-bangsa Eropa yang sedari dulu terlibat persaingan, berlomba-lomba menuju
pusat penghasil rempah-rempah di dunia Timur.

Saat itulah dimulai imperialisme
kuno (Abad 16), sebuah istilah yang nanti akan dibedakan dengan imperialisme modern,
atau bahkan neo-imperialisme. Bangsa-bangsa Eropa, lewat perusahaan-perusahaan
dagangnya berperang (misalnya EIC dan VOC) dan membagi-bagi wilayah dunia,
untuk memonopoli penjualan rempah-rempah saat itu.

Pada masa-masa ini belum dilakukan
secara luas pendudukan wilayah secara politis, atau membentuk koloni
(kolonialisme). Para pedagang Eropa baru berfokus pada membeli rempah-rempah
dengan harga murah dan memonopolinya. Sehingga beberapa sejarawan beranggapan
bahwa pada masa VOC berada di Nusantara belumlah dapat dikatakan Belanda
menjajah Indonesia, karena hubungannya adalah berdagang. Meskipun demikian,
tekanan-tekanan untuk mempengaruhi kebijakan para penguasa feodal (Raja) sudah
dilakukan.

Bahkan Pemerintah Inggris menolak
membentuk koloni di daerah Sungai Congo, Afrika, yang jelas-jelas sudah
ditemukan potensinya oleh penjelajah dan ilmuwan Henry Morton Stanley di tahun
1874. Alasan pemerintah Inggris saat itu adalah tidak ingin menambah beban
pemerintahan Inggris dalam segi biaya. Ternyata pada masa itu, memiliki tanah
jajahan bukanlah sesuatu yang terutama.

Imperialisme
Modern

Perbedaan kebijakan imperialisme
menjadi berubah drastis, ketika Inggris kemudian negara Eropa lainnya berhasil
masuk ke tahap industri pada abad 18-19. Pergantian tenaga manusia ke tenaga
mesin benar-benar meningkatkan jumlah produksi, sehingga tercipta kondisi “overweight production” atau
“barang-barang surplus” pada negara-negara Eropa.

Pada tahap inilah diperlukan
daerah-daerah untuk menjual kelebihan produksi tersebut, dan jaminan
ketersediaan bahan-bahan baku produksi di daerah-daerah luar Eropa, inilah yang
disebut imperialisme modern.

Bangsa-bangsa Barat berebut
mendirikan koloni di daerah baru di Afrika dan Asia. Pasar baru sangat
diperlukan untuk menjaga pertumbuhan ekonomi di tanah Eropa. Maka dengan
kekuatan militer, pendekatan ekonomi, hingga budaya, bangsa-bangsa Eropa
berusaha memiliki daerah-daerah koloni atau jajahan. Sebagai sebagian contoh,
Indonesia menjadi milik Belanda, Malaysia, Singapura, dan India milik Inggris,
Cina dikuasai Jerman, Perancis, Inggris, Amerika Serikat, dan Jepang.
Daerah-daerah di Afrika seluruhnya dibagi-bagi antar negara Eropa. Semuanya
demi tujuan meluaskan pasar, mendekatkan bahan baku industri, dan ketersediaan
tenaga kerja murah.

Neo-Imperialisme

Memasuki tengah abad 20,
negara-negara Eropa tak dapat memungkiri dasyatnya ide nasionalisme, demokrasi,
liberalisme, dan sosialisme. Hak manusia untuk memperoleh kebebasan, dan bebas
dari penjajahan terus dipertanyakan. Maka, negara-negara Eropa, Amerika
Serikat, dan Jepang, harus merelakan daerah-daerah koloninya untuk merdeka.

Lalu apakah masalahnya selesai?
Ternyata tidak, tetap ada permasalahan awal bagi negara-negara Eropa, Amerika
Serikat, dan Jepang yang kemudian disebut negara dunia pertama, atau negara
maju. Adanya “barang-barang surplus” atas hasil produksi mereka, kebutuhan
pasar yang luas, dan tenaga kerja yang murah. Maka, meskipun secara politis
kekuasaan negara maju sudah tidak ada, mereka masih mau dan terus menanamkan
pengaruhnya di bekas negara-negara koloni.

Inggris menyebut hubungan dengan
bekas koloninya sebagai “Commonwealth”.
Negara lain berusaha menanamkan pengaruhnya dengan memberi bantuan, ikatan
ekonomi dan moralitas, dalam bentuk uang dan pinjaman jangka panjang. Sehingga
bekas negara-negara koloni akan terus terikat dalam bentuk hutang yang selalu
ditawarkan, hingga akhirnya terbelit hutang dan tidak mampu membayarnya.

Sekarang…

Coba lihat sekeliling kita, adakah
barang buatan Indonesia? Tusuk gigi yang ada di dekat saya, “Made In China”. Sepatu di sebuah rak,
buatan Amerika, demikian juga beberapa baju kemeja. Komputer saya buatan
Jepang, demikian juga sepeda motor. Sementara saya menonton televisi selama
satu jam, maka sepertiganya adalah iklan-iklan produk luar negeri ataupun
bersaham asing, yang menarik hati.

Buatan Indonesia?! Dulu ada mobil,
tapi ternyata bahan bakunya luar dalam dari Korea. Sekarang ada beberapa,
misalnya alat elektronik, tapi apakah sebagian besar bahannya dari Indonesia?
Atau sebagian besar modalnya Indonesia?

Saya kembali memikirkan diskusi
saya dengan seorang teman. Bila suatu saat, Indonesian dan India mampu mandiri
seperti China, berdiri di kaki sendiri… Maka negara-negara maju akan bangkrut!

Hanya apakah itu akan direlakan
oleh negara maju?!

Pontianak, 01 Mei 2011 (23:40)

Salam Hari Buruh Sedunia

Keuntungan-Keuntungan Dalam Menggunakan Teknologi Teleschool

1.    Keuntungan-Keuntungan Dalam Menggunakan Teknologi Teleschool Dengan adanya penggunaan teknologi ini dalam dunia pendidikan dapat memberikan dampak positif atau keuntungan bagi sekolah, orang tua dan siswa, adapun keuntungan-keuntungannya sebagai berikut: 1)     ...

Pengertian dan Faktor Kedisiplinan Siswa

 Pengertian dan Faktor Kedisiplinan Siswa 1.    Pengertian Kedisiplinan Siswa Masalah disiplin merupakan suatu hal yang sangat penting bagi lembaga pendidikan. Karena disiplin sangat penting, maka sekolah sebagai salah satu lembaga pendidikan dan merupakan salah satu...

Bukan Jamannya Lagi Income Kita Hanya Bergantung pada Perusahaan di Era Crypto Evolution

Follow @HediSasrawan Lock posisis gratis ke Thailand CryptoWorldEvolution, CWE, register cryptoworldrobot.com founder terbaikGratis Support untuk leader Asia Hero Team yg Prominer dan berhasil mengsponsori langsung 3 Prominer dalam bulan Februari iniTiket Event...

Ginjal Manusia (Artikel Lengkap) | Hedi Sasrawan

Follow @HediSasrawan Ginjal adalah sepasang organ berbentuk seperti kacang merah di belakang rongga perut manusia. Pada orang dewasa, panjangnya sekitar 11 cm. Ginjal menerima darah dari arteri ginjal dan mengeluarkannya ke vena ginjal. Setiap ginjal tersambung dengan...

0 Komentar

Kirim Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *