Kisah Seorang Putri Charlotte dari Inggris

Ayah Charlotte

Ayah Charlotte adalah seorang pangeran Inggris bernama George. Ia merupakan anak sulung dari enam belas bersaudara. Ayah George merupakan raja Inggris, George III. Sedangkan ibunya adalah ratu Charlotte. Sebagai anak lelaki pertama, tentu ia mewarisi tahta setelah Raja George III mangkat. George memiliki gaya hidup super mewah. Ia menyukai busana serta mengoleksi parfum. Gaya hidup George membuat dirinya terbelit hutang besar. Pada 15 Desember 1785, George menikah pertama kali dengan Maria Fitzherbert, seorang wanita non-kerajaan. Status Maria adalah dua kali menjanda, berusia enam tahun lebih tua dari George dan beragama Roman Katolik. Pangeran George disebut cinta mati terhadap Maria. Ia bahkan pura-pura melukai perutnya memohon Maria untuk menjadi istrinya. Tentu pernikahan George dan Maria melanggar aturan kerajaan yang telah ditetapkan sejak 1701. Maka itu pernikahan George dan Maria dianggap tidak sah. Seiring dengan berjalannya waktu, hutang George semakin membengkak. Raja George III menolak untuk membantu kecuali jika George mau menikah dengan sepupunya, Caroline Brunswick. Ibunda Caroline yang bernama Augusta dan ayah George yaitu raja George III adalah saudara kandung. Augusta merupakan kakak sulung dan satu-satunya raja George III. Kerajaan mengutus Tuan Malmesburry untuk menjemput Caroline dari Brunswick Jerman menuju ke Inggris. Saat berkenalan, sikap George sama sekali tidak simpatik terhadap Caroline. Ia berusaha mencari kekurangan Caroline. Ia menyebut bahwa Caroline memiliki bau tak sedap dan diduga sudah tidak perawan. Sebaliknya Caroline mengatakan kepada Tuan Malmesburry bahwa sang calon suami gemuk dan tidak setampan seperti di lukisan. Pangeran George menetapkan salah satu selirnya yaitu Nona Jersey untuk menjadi asisten pribadi Caroline. Caroline sempat memprotes hal ini, namun ia tak dapat berbuat banyak. Pernikahan pun dihelat pada 8 April 1795. Tentu George sudi melakukan pernikahan paksa ini karena terhimpit. Gantinya, ia ogah-ogahan saat pemberkatan sakral berlangsung. Ia mengucap janji suci dalam kondisi mabuk, bahkan saat kegiatan intim dua kali di malam pertama. Esoknya, ayah dan ibu Charlotte melakukan kegiatan intim untuk ketiga kali dan terakhir kali. Hasilnya, ibu Charlotte pun hamil, namun ia hidup terpisah dari ayah Charlotte. Mereka hampir jarang bertemu meskipun tinggal di satu rumah. Berkomunikasi pun hanya melalui surat menyurat yang diantar oleh para kurir kerajaan. Pada 7 Januari 1796, Caroline melahirkan seorang bayi perempuan sehat yang diberi nama Charlotte Augusta. Nama tersebut diambil dari kedua neneknya yaitu ratu Charlotte dan putri Augusta. Di saat yang bersamaan, pangeran George yang sedang sakit yakin bahwa ia sudah mendekati ajal. Pangeran George menulis wasiat jika kelak Maria meninggal dunia, jasadnya dimakamkan satu liang kubur dengan dirinya. George juga menambahkan tulisan bahwa ia meninggalkan hartanya untuk Maria Fitzherbert dan hanya 1 shilling (nilai uang yang paling rendah pada jaman itu) kepada Caroline. Namun beberapa hari kemudian, pangeran George sembuh. Ia melarang Caroline menemui Charlotte kecuali jika ditemani oleh pengasuh dan perawat. Namun Caroline dilarang memberi keputusan apapun mengenai tumbuh kembang Charlotte. George membenci istri sahnya sehingga bersumpah kelak Caroline tidak akan dinobatkan sebagai ratu pendamping. Pada akhir 1797, Caroline tidak lagi hidup seatap dengan dirinya. Oleh karena Nona Jersey sudah keluar, maka ia kembali ke Maria Fitzherbert. Pada 1811, raja George III ditetapkan sudah tak mampu menjalankan fungsi sebagai raja akibat penyakit mental yang dideritanya. Maka pangeran George pun mendapat mandat untuk berkuasa. Ia segera menggunakan kekuasaannya untuk membatasi Caroline bertemu dengan sang putri, Charlotte. Hal ini membuat Caroline marah dan memutuskan keluar dari rumah Blackheath. Pangeran George tampak senang dan merayakan kepergian Caroline bersama Nona Hartford. Maria Fitzherbert sudah tak ada lagi dalam kehidupan George. Pada Januari 1820, George bertahta menjadi raja George IV. Ia berusaha menceraikan Caroline secara resmi namun penasihat George mengatakan bahwa proses perceraian akan juga mengungkap perselingkuhan George. Ia berusaha mendaftarkan usul kepada parlemen Inggris dengan tujuan membatalkan pernikahannya dengan Caroline dan juga mencabut gelar Caroline sebagai ratu Inggris. Jika disetujui parlemen, maka tak perlu melalui persidangan. Usul George ini tak disukai masyarakat dan kemudian dicabut dari parlemen. Caroline wafat tak lama setelah George dinobatkan sebagai raja Inggris pada 1821. Ia mendengar berita wafatnya Caroline saat sedang berada di dalam kapal menuju ke Irlandia. Bendera diturunkan setengah tiang sebagai bentuk perkabungan. Pada 26 Juni 1830, raja George IV mangkat akibat pendarahan usus besar. Pada 1833, pemerintah Inggris meminta Maria Fitzherbert menandatangani surat pernyataan bahwa pernikahan antara dirinya dengan George tidak menghasilkan anak. Namun Maria menolak sembari tersenyum. Diduga mereka memiliki dua anak. Jika benar, maka putri Charlotte memiliki dua kakak tiri namun tidak pernah diakui resmi oleh pemerintah. Maria menunjukkan surat pernikahan dirinya dengan George kepada adik George, raja William IV. Raja William IV menawarkan Maria sebuah kecamatan untuk dikuasai, namun ia menolak. Maria wafat pada tahun 1837.

Ibunda Charlotte

Pernikahan hasil dari perjodohan membuat ibunda Charlotte, Caroline menderita. Ia memiliki suami namun hidup bak seorang janda. Caroline hidup terisolasi dan dilarang bertemu siapapun tanpa ijin dari sang suami. Orang yang diijinkan menemani Caroline adalah wanita berusia tua. Sebagai asisten pribadi, Nona Jersey menemani Caroline makan. Caroline membenci Nona Jersey, sementara pangeran George juga menolak menemani. Di lubuk hatinya, Caroline juga merasa bahwa Nona Jersey membenci dirinya. Dalam kondisi hamil besar, Caroline mengutarakan rasa kesepiannya dalam sebuah surat. Ia mengungkap bahwa ratu Charlotte yang juga tantenya, jarang menemui dirinya. Sementara kelima saudari iparnya juga tidak menunjukkan rasa simpati kepada Caroline. Masyarakat Inggris mulai kehilangan simpati terhadap pangeran George dan menaruh simpati terhadap kondisi Caroline. Pada 7 Januari 1796, Caroline melahirkan seorang bayi perempuan yang sehat, dinamai Charlotte Augusta. Keberadaan putri semata wayang pun tidak meluluhkan hati George untuk lebih mengasihi Caroline. Pangeran George melarang Caroline menemui Charlotte kecil kecuali jika ditemani oleh perawat dan pengasuh. Ia juga melarang Caroline memberi keputusan apapun mengenai tumbuh kembang Charlotte. Para penjaga kediaman Charlotte merasa prihatin dengan larangan yang tak masuk akal ini. Mereka membiarkan Caroline menghabiskan waktu berdua dengan Charlotte kecil. Caroline membawa Charlotte berjalan-jalan keluar dan disambut meriah oleh masyarakat. Pangeran George tak mengetahui hal ini sebab ia sendiri jarang menemui Charlotte kecil. Caroline kemudian menulis surat kepada sang ayah mertua, raja George III. Raja George III memihak Caroline dan meminta Nona Jersey untuk berhenti sebagai asisten pribadi. Suatu hari pada akhir tahun 1797, Caroline meminta bertemu George. Pada pertemuan yang dingin itu, Caroline merasa tidak dihargai sebagai seorang istri dan juga tidak dihargai sebagai seorang ibu dari seorang putri pewaris tahta. Maka itu, ia tak lagi ingin menuruti perintah sang suami. Itu adalah terakhir kalinya pangeran George berkomunikasi langsung dengan Caroline. Kemudian pangeran George meminta pada sang ayah, raja George III untuk berpisah dari Caroline. Permintaan itu ditolak, namun sang raja mengijinkan Caroline untuk pindah dari rumah kerajaan. Caroline kemudian menetap di sebuah rumah kecil di luar kota London, tepatnya di Blackheath. Meski hidup tidak bersama anggota kerajaan lain termasuk anak semata wayang mereka, Caroline tidak merasa kesepian di rumah itu. Ia banyak mengundang orang untuk berkumpul dan menikmati makan bersama. Bermain harpa merupakan salah satu keahlian Caroline. Namun kegiatan sehari-hari bukan tidak diawasi. Sekretaris George yang bernama Tuan Liverpool rutin mengirim laporan kepada sang pangeran. Oleh karena Caroline kerap mengundang para pria dan kemudian tiba-tiba hidup bersama seorang bayi lelaki bernama William Austin, Caroline dicurigai memiliki anak di luar pernikahan. Para pembantu Caroline menyebut bahwa William diantar ke rumah Caroline oleh ibu kandungnya sendiri, Sophie Austin. Saat diinterogasi, Sophie mengakui hal ini. Jika benar William adalah anak haram Caroline, maka George memiliki alasan kuat untuk bercerai. Setelah pangeran George mendapat kuasa menggantikan raja George III yang sudah hilang ingatan, Caroline memutuskan keluar dari rumah Blackheath. Caroline keliling Eropa selama enam tahun. Ia merasa bebas bergerak, tak ada aturan yang mengekang. Namun sekretaris Liverpool tetap memberi laporan rutin kepada George. Di Milan, Caroline bertemu dengan Bartolomeo Pergami. Meski memiliki istri, Bartolomeo memboyong keluarganya untuk tinggal bersama Caroline, kecuali sang istri. Pada Januari 1820, ayah Charlotte bertahta sebagai raja George IV menggantikan sang kakek yang wafat di usia 81 tahun. Upacara penobatan digelar di gereja Westminster Abbey pada 19 Juli 1821. Namun seperti telah diatur demi upaya mencegah Caroline, tamu yang hadir harus menunjukkan undangan. Caroline yang datang bersama Bartolomeo Pergami tentu tidak membawa undangan. Caroline mengatakan bahwa ia berhak masuk meski tanpa undangan sebab ia adalah istri sah raja George IV.  Caroline dihadang oleh bayonet dan kemudian pintu masuk utama dipaksa tutup. Caroline tak menyerah. Ia dan Bartolomeo berusaha masuk melalui pintu lain. Di depan pintu, ia bertemu dengan politikus Tuan Inglis. Tuan Inglis berhasil membujuk Caroline untuk kembali ke kereta dan pulang. Masyarakat di jalanan berteriak ke Caroline untuk kembali ke Pergami. Caroline kehilangan dukungan masyarakat Inggris. Malam harinya, Caroline tiba-tiba jatuh sakit. Ia merasa diracun oleh pihak yang tak menyukai dirinya. Dugaan pihak lain adalah Caroline menderita kanker usus. Caroline berupaya mengobati dengan meminum magnesium hidroksida dalam jumlah banyak. Tiga minggu kemudian, kondisi Caroline semakin memburuk. Menyadari kondisinya takkan pulih, semua catatan mengenai dirinya dibakar. Ia menulis wasiat dan menginginkan dikubur dengan plakat tertulis : Di Sini Terbaring Caroline, Ratu Inggris Yang Tersakiti. Peti jenazah Caroline dibawa menggunakan kereta kuda ke kapal untuk menuju ke tanah kelahirannya Brunswick di tengah hujan deras.

Charlotte, Putri Wales Semasa Gadis

Sang putri merupakan cucu sah satu-satunya raja George III. Ini ironis sebab raja George memiliki total 14 anak yang hidup hingga dewasa. Charlotte adalah kakak sepupu dari ratu Inggris Victoria. Namun Charlotte meninggal saat Victoria belum lahir. Seandainya masih hidup, Charlotte lah yang menjadi ratu Inggris. Kelahiran Charlotte kurang disambut rasa senang oleh sang ayah sebab ia lebih menginginkan anak laki-laki. Sementara raja George III dikabarkan sangat senang dengan kelahiran cucu sah pertamanya. Raja George III memang lebih menyukai anak perempuan daripada anak laki-laki. Ia berharap bahwa kelahiran Charlotte bisa memperbaiki hubungan George dan Caroline. Sayang harapan sang raja tidak terkabulkan. Saat Charlotte berusia 10 tahun, ia berjalan-jalan di sebuah taman. Di taman itu, ia berpapasan dengan sang ibunda. Namun Caroline tampaknya masih saja patuh dengan perintah sang suami. Caroline berpura-pura tak melihat Charlotte. Charlotte kecil sangat terpukul. Selepas remaja, calon suami putri Charlotte mulai dibahas. Ayah Charlotte meminta ia menikah dengan William II, pangeran pewaris kerajaan Belanda. Negosiasi pernikahan dibahas selama berbulan-bulan. Charlotte menandatangani negosiasi ini pada 10 Juni 1814. Di sebuah pesta di hotel Pulteney London, Charlotte berkenalan dengan Leopold, pangeran Saks Coburg dan Gotha. Charlotte mengundang Leopold untuk menemui dirinya. Leopold pun hadir menemui Charlotte selama 45 menit. Kemudian Leopold menulis surat permintaan maaf atas perbuatannya kepada ayah Charlotte. Pangeran George sangat terkesan dengan Leopold yang sopan namun tak tertarik menjadikan ia sebagai suami bagi Charlotte sebab dianggap tak memiliki harta. Masyarakat Inggris meminta Charlotte membatalkan rencana pernikahannya dengan William agar ia tak meninggalkan ibunya. Charlotte mengatakan bahwa setelah menikah nanti, ia akan memboyong sang ibunda untuk tinggal bersama. Tentu kondisi ini tak bisa diterima oleh pangeran George. Namun di sisi lain sang calon suami juga tak menyetujui sehingga Charlotte pun membatalkan pertunangannya. Pangeran George kecewa dan memerintahkan agar Charlotte tetap di dalam rumah sampai tiba waktunya untuk dipindahkan ke Windsor. Di Windsor nanti, Charlotte tak boleh ditemui siapapun kecuali ratu Charlotte, sang nenek. Charlotte frustasi dan lari ke jalan. Seorang pria membantu Charlotte mencari sebuah kereta. Charlotte pergi menuju ke rumah sang ibunda. Saat tiba di rumah sang ibunda, Caroline ternyata sedang pergi mengunjungi rumah teman. Caroline bergegas kembali ke rumah untuk menemui Charlotte. Ayah Charlotte mengirim beberapa politikus dari partai Whig untuk menemui Charlotte. Tak hanya itu, sang ayah juga mengirim beberapa anggota kerajaan, salah satunya adalah pangeran Ferdinand, Adipati York yang juga paman Charlotte. Sang paman mengantongi ijin untuk membawa Charlotte dengan paksa jika diperlukan. Setelah beradu mulut sekian lama, Charlotte pun setuju untuk kembali pada esok hari. Meski Charlotte bersedia kembali, sang ayah tetap saja memaksa dirinya untuk pindah ke Windsor. Semua pegawai diharuskan mengawasi Charlotte 24 jam. Charlotte kemudian berhasil menyelundupkan sebuah surat kepada paman lain yaitu pangeran Augustus, Adipati Sussex. Charlotte menceritakan kondisinya. Pangeran Augustus kemudian bertanya kepada perdana menteri Liverpool tentang kebebasan Charlotte. PM Liverpool justru meneruskan pertanyaan ini kepada ayah Charlotte. Ayah Charlotte marah kepada sang adik dan kemudian memutus komunikasi. Pada akhir Juli 1814, ayah Charlotte berkunjung dan mengatakan bahwa ibunda Charlotte akan pergi dari Inggris. Ibunda Charlotte akan berkeliling Eropa. Hal ini menambah rasa kecewa Charlotte. Ia dan ibunya tak lagi pernah bertemu.




Charlotte Menentukan Suami Pilihan Hati
 Pada awal 1815, Charlotte menetapkan pilihan kepada pangeran Leopold. Ia menulis surat kepada sang ayah “tidak ada adu mulut, tidak ada paksaan yang mengharuskan aku menikahi pria Belanda yang (aku) benci ini”. Ayah Charlotte pun menyerah, apalagi setelah mengetahui bahwa William II sudah bertunangan dengan wanita lain dari Russia. Ayah Charlotte mengundang Leopold datang ke Inggris pada Februari 1816. Ia mengajak Charlotte dan Leopold untuk makan malam bersama. Ayah Charlotte sangat terkesan dengan Leopold. Ia menyebut bahwa Leopold memiliki setiap kualifikasi untuk membuat seorang wanita bahagia, dalam hal ini adalah putri Charlotte. Parlemen Inggris membeli rumah Claremont untuk calon pengantin, menyiapkan dana untuk mengisi rumah dan memberi gaji tahunan kepada Leopold. 

Pernikahan dihelat pada 2 Mei 1816. Warga Inggris tumpah ruah ke jalanan. Keduanya berbulan madu di istana Oatlands. Meski disebut tempat tak ideal, namun tak mengurangi kebahagiaan Charlotte. Charlotte menyebut Leopold sebagai suami yang sempurna.  Hari kedua bulan madu, ayah Charlotte datang berkunjung. Kepada Leopold, ia menjelaskan seragam tentara Inggris selama dua jam.

Kehidupan Setelah Menikah

Sekembalinya dari bulan madu, Charlotte dan Leopold sempat menghadiri sebuah konser. Para tamu yang hadir memberi tepukan tangan untuk mereka berdua dan kemudian bernyanyi lagu kebangsaan. Namun saat konser berlangsung, Charlotte jatuh sakit. Ia mengalami keguguran. Dokter pribadi Leopold yang bernama Christian Stockmar menyebut bahwa Leopold memberi pengaruh yang baik kepada Charlotte. Charlotte selalu berpakaian bagus dan lebih tenang. Leopold sendiri mengatakan bahwa ia dan Charlotte selalu bersama kecuali saat ia berburu. Leopold memanggil Charlotte dengan sebutan cintaku. Pada 24 Agustus 1816, Charlotte dan Leopold mulai menempati rumah baru mereka Claremont. Saat hari natal tiba pada Desember 1816, keluarga besar Leopold dari Coburg diundang datang. Pada 7 Januari 1817, ayah Charlotte menggelar pesta meriah untuk merayakan ulang tahun Charlotte yang ke-21. Tragisnya, ini adalah ulang tahun yang terakhir bagi seorang Charlotte. Keluarga besar Coburg masih di Inggris namun tidak menghadiri ulang tahun Charlotte. Mereka memilih untuk tinggal di rumah Claremont.


When Charlotte met Leopold | National Trust
Pengantin Baru Charlotte dan Leopold

Kehamilan Terakhir Charlotte

Pada April 1817, Leopold memberitahu sang ayah mertua bahwa Charlotte dalam kondisi hamil lagi. Ia yakin bahwa kehamilan ini akan sukses. Selama kehamilan, Charlotte menghabiskan waktu duduk untuk dilukis. Charlotte banyak makan dan sedikit olah raga. Tim dokter memulai persiapan kelahiran sejak Agustus 1817. Dokter mengharuskan Charlotte untuk diet demi mengurangi ukuran bayinya sehingga lebih mudah dilahirkan nanti.  Namun diet dan sesekali pendarahan rupanya melemahkan Charlotte. Dokter Christian Stockmar melihat persiapan yang dilakukan dokter sudah ketinggalan jaman. Akan tetapi Stockmar enggan masuk ke dalam tim sebab jika terjadi yang tidak diharapkan dan sebagai seorang warga asing, ia akan mudah disalahkan. Dokter memperkirakan Charlotte akan melahirkan pada 19 Oktober 1817. Namun saat bulan Oktober berakhir, Charlotte belum memiliki tanda-tanda melahirkan.

Melahirkan

Pada 2 November 1817, Charlotte dan Leopold pergi seperti biasa. Esok malamnya, Charlotte mengalami kontraksi. Dokter Richard Croft melarang Charlotte untuk makan dan meminta Charlotte untuk olah raga. Menjelang tanggal 5 November, nampak jelas bahwa Charlotte tidak mungkin bisa melahirkan bayinya. Dokter Croft dan dokter pribadi Charlotte yang bernama William Baillie mengirim dokter kandungan John Simms. Namun anehnya, dokter Croft melarang dokter Simms untuk memeriksa Charlotte. Charlotte baru bisa melahirkan bayinya pada 5 November 1817 jam 9 malam. Bayi laki-laki ukuran besar itu dalam kondisi tak bereaksi. Meski dokter sudah melakukan upaya pertolongan pertama, bayi tersebut tak dapat diselamatkan. Charlotte yang meski kelelahan tetap bersikap tenang saat mendengar kondisi bayinya. Ia menyebut bahwa sudah kehendak Tuhan. Leopold yang sudah menemani Charlotte dari tanggal 3 November malam pun kelelahan dan tertidur lelap.

Meninggal Dunia

Setelah melahirkan dan diet tanpa makanan selama 2 hari penuh, Charlotte pun menikmati makanan. Charlotte tampak perlahan pulih. Tim dokter mulai meninggalkan Charlotte. Melewati tengah malam, tiba-tiba Charlotte terbangun muntah-muntah dan mengeluh bagian perutnya sakit. Dokter Richard Croft dipanggil untuk melihat kondisi Charlotte. Badan Charlotte sudah dingin dan kesulitan bernafas. Charlotte mengalami pendarahan dalam. Diduga akibat plasenta yang dipotong oleh dokter. Dokter Croft mengompres perut Charlotte dengan air hangat, perawatan yang diterima kedokteran pada jaman itu. Namun pendarahan tetap tak berhenti.  Ia meminta Stockmar untuk membangunkan Leopold namun Leopold sendiri susah dibangunkan. Stockmar kemudian kembali ke kamar Charlotte, mendekati sang putri yang tengah sekarat. Putri Charlotte meraih tangan Stockmar dan mengatakan bahwa ia dibuat mabuk oleh tim dokter. Stockmar keluar lagi demi membangunkan Leopold namun tak jadi sebab tiba-tiba Charlotte memanggil namanya dua kali dari dalam kamar “Stockie…Stockie”. Saat Stockmar masuk lagi, Charlotte sudah tidak bernyawa.

Berkabung

Meninggalnya Charlotte dan bayinya merupakan pukulan telak bagi banyak orang. Ayah Charlotte bahkan tidak mampu menghadiri pemakaman sang putri semata wayang. Di Brunswick, Jerman, Ibunda Charlotte pingsan saat mendengar berita duka tersebut dari seorang kurir. Toko-toko dan perkantoran di Inggris tutup selama dua minggu. Para kafir miskin dan gelandangan memakai pita hitam di lengan mereka. Tempat perjudian tutup pada hari pemakaman Charlotte. Orang yang paling terpukul tentu saja Leopold. Hal ini diungkapkan oleh Christian Stockmar bahwa tanpa Charlotte, ia merasa tidak lengkap seolah ia kehilangan separuh hatinya. Dua generasi hilang sekaligus. Jenazah Charlotte dimakamkan di Chapel St George, Kastil Windsor. Jasad bayinya ditaruh di kaki Charlotte. 

Masyarakat Mulai Menyalahkan

 Meski Charlotte pribadi meminta kedua orang tuanya tidak menemani saat ia melahirkan, namun masyarakat tetap menyalahkan kedua orang tua Charlotte. Berikutnya, masyarakat menyalahkan dokter Richard Croft. Namun ayah Charlotte menolak menyalahkan dokter Croft. Tudingan masyarakat ini membebani pikiran dokter Croft sehingga tiga bulan kemudian ia menembak kepalanya hingga tewas. Padahal kala itu dokter Croft sedang menangani persalinan seorang wanita muda.

Leopold Sepeninggal Charlotte

Leopold dikabarkan menjalin hubungan dengan Caroline Bauer. Caroline sendiri adalah sepupu Christian Stockmar dan berprofesi sebagai seorang artis Jerman. Adipati Wellington menyebut bahwa Caroline Bauer sangat mirip dengan mendiang Charlotte. Caroline mengakui bahwa telah terjadi pernikahan diam-diam antara dirinya dengan Leopold. Setelah menikah, Leopold memberi gelar Countess Montgomery. Namun klaim Caroline diragukan sebab dianggap tidak ada bukti. Entah bukti sengaja dihilangkan oleh pihak tertentu atau memang tidak pernah terjadi, hingga kini masih misteri. Anak lelaki Christian Stockmar juga menyangkal klaim Caroline. Lebih lanjut Caroline menyebut bahwa Leopold memutuskan pernikahan saat ia digadang-gadang akan menjadi raja Yunani. Namun kemudian Leopold menolak tawaran tersebut sebab ia merasa posisi raja Yunani sangat rapuh dan berbahaya. Pada akhirnya ia menerima tawaran menjadi raja Belgia. Ia adalah kakek buyut raja Belgia yang sekarang, Philippe. Caroline sendiri kemudian menikah lagi dengan pria lain. Namun Caroline kemudian bunuh diri di usia 70 tahun.

Leopold Menikah Lagi

Pada 9 Agustus 1832, Leopold menikah dengan Louise Marie dari Orleans. Louise Marie merupakan buyut dari raja Perancis Louis XIV. Pernikahan ini dikaruniai empat orang anak namun anak sulung meninggal saat masih bayi. Untuk mengenang istri pertama, Leopold dan Marie menamai putri bungsu mereka “Charlotte”. Setelah menikah, Charlotte sempat menjadi permaisuri Meksiko. Pada akhir tahun 1939, Leopold aktif menjodohkan kedua keponakannya yaitu ratu Victoria Inggris dengan Albert, pangeran Saks Coburg dan Gotha. Perjodohan ini membuahkan hasil tanpa halangan. Pada 1850, Leopold kembali menjadi duda. Sang istri meninggal akibat tuberkulosis di usia 38 tahun. Sepeninggal Marie Louise, Leopold tidak pernah menikah lagi hingga akhir hayatnya pada tahun 1865.

Keuntungan-Keuntungan Dalam Menggunakan Teknologi Teleschool

1.    Keuntungan-Keuntungan Dalam Menggunakan Teknologi Teleschool Dengan adanya penggunaan teknologi ini dalam dunia pendidikan dapat memberikan dampak positif atau keuntungan bagi sekolah, orang tua dan siswa, adapun keuntungan-keuntungannya sebagai berikut: 1)     ...

Pengertian dan Faktor Kedisiplinan Siswa

 Pengertian dan Faktor Kedisiplinan Siswa 1.    Pengertian Kedisiplinan Siswa Masalah disiplin merupakan suatu hal yang sangat penting bagi lembaga pendidikan. Karena disiplin sangat penting, maka sekolah sebagai salah satu lembaga pendidikan dan merupakan salah satu...

Bukan Jamannya Lagi Income Kita Hanya Bergantung pada Perusahaan di Era Crypto Evolution

Follow @HediSasrawan Lock posisis gratis ke Thailand CryptoWorldEvolution, CWE, register cryptoworldrobot.com founder terbaikGratis Support untuk leader Asia Hero Team yg Prominer dan berhasil mengsponsori langsung 3 Prominer dalam bulan Februari iniTiket Event...

Ginjal Manusia (Artikel Lengkap) | Hedi Sasrawan

Follow @HediSasrawan Ginjal adalah sepasang organ berbentuk seperti kacang merah di belakang rongga perut manusia. Pada orang dewasa, panjangnya sekitar 11 cm. Ginjal menerima darah dari arteri ginjal dan mengeluarkannya ke vena ginjal. Setiap ginjal tersambung dengan...

0 Komentar

Kirim Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *