in

MAKALAH SASTRA INDONESIA

MAKALAH

PENDIDIKAN
BAHASA DAN SASTRA INDONESIA DI KELAS TINGGI

JUDUL:
MEMBACA DAN
SASTRA ANAK

DOSEN:
KRISTOFORUS DOWA BILI, M.Pd

NAMA-NAMA KELOMPOK 3 PGSD B:

1.MARTINA KAKA NDAHA

2.MARTA UMBU

3.YUSTINUS KALUMBANG

4.SISILIA DONDO

5.YOHANITA KALUMBANG

6.URBANUS UMBU AWANG

SEKOLAH  TINGGI 
KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN (STKIP)

PENDIDIKAN GURU SEKOLAH DASA (PGSD)

WEETEBULA

2015

KATA
PENGANTAR

Puji
syukur kepada Tuhan yang Maha Esa atas rahmat dan penyertaan-Nya sehingga
makalah ini dapat diselesaikan.

Ucapan
terima kasih kepada dosen pengampuh matakulia Pendidikan bahasa dan Sastra
Indonesia di kelas tinggi yang selalu memberikan motivasi, dukungan, dan
membantu dalam pembuatan makalah ini. Kepada teman-teman kelompok dan semua
pihak yang terlibat dalam pembuatan makalah ini 
yang turut memberikan ide-ide. Semoga makalah Pendidikan bahasa dan
Sastra Indonesia di kelas tinggi dapat bermanfaat bagi semua yang ingin
menambah pengetahuan.

Penulis
menyadari bahwa makalah ini masih sangat jauh dari kesempurnaan. Oleh karena
itu, penulis sangat membutuhkan kritik dan saran yang bersifat membangun dari
para pembaca.

                                                                                                                         

Weetebula,
6 Oktober 2015

penulis

DAFTAR ISI

Halaman Judul…………………………………………………………………………………………..i

Kata
Pengantar…………………………………………………………………………………………ii

Daftar
Isi………………………………………………………………………………………………….iii

Bab I Pendahuluan

1.1. Latar
Belakang…………………………………………………………………………..
…..1

1.2. Rumusan Masalah…………………………………………………………………………..2

1.3. Tujuan
Pembahasan……………………………………………………………………
….2

Bab II PEMBAHASAN

                  2.1. Pengertian
Membaca dan Sastra.
…………………………………………………..3

       2.2. Sastra Sebagai Landasan
Pengembangan Membaca……………………..
5

     2.3.
Pemanfaatan Bahan Ajar Sastra Bagi
Penumbuhkembangan             
                                Kemampuan   
Berbahasa…………………………………………………………….8

        2.4.
Pengajaran Sastra Indonesia………………………………………………………10

              Bab III PENUTUP

                  3.1.
Kesimpulan……………………………………………………………………………….14

                  3.2. Saran…………………………………………………………………………………………14

             Daftar pustaka…………………………………………………………………………..15

BAB I

PENDAHULUAN

1.1.Latar
Belakang

Pendidikan
sastra dan bahasa Indonesia mempunyai peranan yang penting didalam dunia
pendidikan. Seperti dalam kehidupan sehari-hari kita menggunakan bahasa
Indonesia sebagai alat komunikasi. Oleh karena itu,  kita harus mempelajari ilmu pendidikan tentang
bahasa dan sastra Indonesia. Agar kita dapat belajar dan mengetahui bagaimana
cara kita menggunakan bahasa Indonesia dengan baik dan benar.

Terutama bagi
pendidik, pendidikan bahasa dan sastra Indonesia dirasakan memang sangat
penting. Karena ketika seorang pendidik memberikan pengajaran kepada anak-anak
didiknya, harus bisa menggunakan bahasa Indonesia dengan baik dan benar.
Apabila seorang pendidik mengunakan bahasa yang kurang baik, maka akan dicontoh
oleh anak-anak didiknya.

1.2. RUMUSAN
MASALAH.

Adapun
rumusan masalah pada makalah ini adalah :

1.     
Apa  pengertian Membaca dan Sastra

2.     
 Apa itu Sastra Sebagai Landasan Pengembangan Membaca?

3.     
  Apa itu pemanfaatan Bahan Ajar Sastra Bagi
Penumbuhkembangan      Kemampuan    Berbahasa?

4.     
  Apa itu pengajaran Sastra Indonesia?

1.3.TUJUAN.

Adapun
tujuan dari makalah ini adalah untuk memahami
tentang membaca dan sastra anak, dan apa saja yang menjadi tujuan membaca dan sastra anak.

BAB II

MEMBACA DAN SASTRA ANAK

2.1. Pengertian Membaca dan Sastra

Secara keseluruhan mata pelajaran
Bahasa Indonesia di SD berfungsi untuk mengembangkan kemampuan bernalar,
berkomunikasi, dan menggunakan pikiran juga perasaan, serta membina persatuan
dan kesatuan bangsa. Di SD, khususnya di kelas 1 dan 2 diutamakan pengembangan
kemampuan berbahasa Indonesia sederhana melalui membaca, menulis, mengarang dan
imla (dikte) dengan menggunakan bahasa Indonesia baku. Untuk mengembangkan
kemampuan dan keterampilan dasar menggunakan bahasa, dalam kegiatan kegiatan
belajar di kelas 1 dan 2 diberikan pengetahuan sederhana tentang lingkungan
alam dan sosial

Menurut Spodek dan Saracho, membeca
merupakan proses mendapatkan makna dari barang cetak. Ada dua cara yang
ditempuh dalam membaca untuk memperoleh makna dari barang cetak yaitu :

1.     
Langsung, yakni menghubungkan ciri penanda visual dari
tulisan dengan maknanya.

2.     
Tidak langsung, yakni mengidentifikasi bunyi dalam
kata dan menghubungkannya dengan makna.

3.     
Kaitan Membaca dan Sastra

Sastra
berfungsi menghibur dan sekaligus mendidik, sehingga paling sedikit yang
diperoleh dari sastra yaitu memahami kebutuhan akan kepuasan pribadi dan
pengembangan kemampuan bahasa. Kepuasan pribadi anak-anak setelah membaca karya
sastra sangat penting, artinya selain mereka diminta menguasai keterampilan
membaca selanjutnya karya sastra juga berfungsi mengembangkan wawasan.

Dalam fungsi
karya sastra dalam mengembangkan kemampuan berbahasa dapat disebut sebagai
nilai pendidikan. Banyak hasil pendidikan yang menunjukan keefektipan karya
sastra dalam mengembangkan kemahiran berbahasan. Misalnya: Sorolski dkk,
menemukan bahwa buku bergambar yang baik dapat merangsang peningkatan pikiran
dan perasaan anak secara lisan.

Ø 
Sastra anak-anak dan pengembangan
keberwacanaan

Kebewaraan adalah kemampuan membaca dan menulis dalam
menunaikan tugas-tugas yang berkaitan dengan dunia kerja dan kehidupan diluar
sekolah (Tompkins, 1991:81). Pengembangan membaca dan menulis telah diamanatkan
di dalam kurikulum Pendidikan Dasar khususnya pendiikan dasar yang
diselenggarakan di SD.

Pelajaran Bahasa Indonesia berfungsi untuk
mengembangkan kemampuan berkomunikasi, mengungkapkan pikiran dan perasaan
melalui kegiatan membeca dan menulis (Kurikulum Pendidikan Tahun 1994).
Pengembangan keberwacanaan dapat dilaksanakan melalui pemanpaatan ini anak-anak
sebagai media pembelajaran membaca dan menulis. Pemanpaatan ini didasarkan pada
asumsi bahwa sastra dapat mengembangkan bahasa, sastra dapat mengembangkan
bahasa anak (Huck, 1987: Ellis, 1989)

Istilah keberwacanaan merupakan
terjemahan “Literacy” dari bahasa Inggris. Semula, literacy diartikan
sebagai pengetahuan tentang cara membaca (keberaksaraan) tetapi kemudian karena
tujuan yang diharapkan bukan sekedar mengenal aksara atau tulisan. Para guru
memperkrnalkan komputer pada anak SD dan mengembangkan keberwacanaan komputer (computer
literacy).

Bagaimanapun, keberwacanaan adalah suatu alat atau
sarana yang dipakai untuk belajar tentang dunia dan untuk berperan penuh dalam
masyarakat.

Ø 
Awal keberwacaan

Keberwacanaan
adalah proses yang dimulai sebelum pendidikan dasar berlanjut kemasa dewasa.
Keberwacanaan dilakukan pada anak berumur 5 tahun atau pada saat memasuki taman
kanak-kanak. Sebagai “persiapan” untuk pembelajaran membaca dan menulis yang
akan dimulai secara formal pada tingkat pertama.

Imflikasi
dari hal ini adalah bahwa dalam perkembangan anak-anak ada saat-saat yang tepat
untuk mengajari mereka membaca. Persfektif tentang cara anak menjadi anak
itulah yang disebut awal keberwacanaan (emergency literacy).

Berdasarkan keberwacanaan ditentukan oleh 4 komponen,
atau 4 elemen umum yaitu:

1.     
Pesan tekstual (textual intent)

2.     
Daya tawar (negotiability)

3.     
Bahasa digunakan untuk meningkatkan bahasa (language
use to tinetune language)

4.     
Pengambilan risik (risk takinag)

5.     
Fungsi sastra anak-anak dalam pengembangan
keberwacanaan

Pada bagian awal tulisan ini
dikemikakan bahwa keberwacanaan mnengacu pada kemampuan membaca dan menulis. Terkait
dengan dua kemampuan inilah fungsi sastra anak-anak dalam pengembangan
keberwacanaan dijelaskan dengan memanfaatkan informasi (Huck, 1987: 15-16)
menyimak cerita dapat memperkenalkan anak pada pola-pola bahasa dan
mengembangkan kosakata serta maknanya, peran membaca juga cukup signifikan
dalam pengembangan menulis.

Smith mengetakan pengembangan
komposisi dalam menulis tidak dapat dikembangkan dalam menulis saja tetapi
menuntut aktifitas membaca dan kegemaran membaca. Hanya dari bahasa tulis orang
lain anak-anak dapat mengamati dan memahami konvesi serta gagasan secara
bersama-sama (Huck, 1987).

2.2.Sastra Sebagai Landasan
Pengembangan Membaca

Program pembelajaran sastra yang
berlandaskan sastra menggunakan berbagai pendekatan dan strategi untuk membentuk
keterampilan berbahasa. Pembelajaran bersifat terpadu yang sudah diterapkan
dalam situasi kelas. Jadwal membaca tiap hari dapat digabarkan dengan cara,
yaitu waktu dua jam dipandang sudah sesuai karena keterampilan berkomunikasi
dalam bidang membaca, menulis, menyimak dan berbicara diajarkan secara terpadu.
Guru memerlukan waktu khusus untuk mengajarkan keterampilan-keterampilan
tertentu kepada kelompok anak atau seluruh anak di kelas. Dalam keseluruhan
program pembelajaran bahasa kegiatan terarah kadang-kadang berwujud
pembelajaran strategi

membaca. Misalnya murid menanggapi ilustrasi cerita,
membuat ilustrasi hasil

karya sastra sendiri, mendemonstrasikan peristiwa dan
sebagainya.

Ø 
Kegiatan bebas

Anak-anak
perlu diberikan kesempatan untuk memprakarsai kegiatan-kegiatan mereka sendiri
dan bertanggung jawab untuk melaksanakannya. Memberikan kesempatan kepada
anak-anak untuk membuat keputusan, mengatasi masalah, dan bertanggung jawab
atas kegiatan belajar, mereka sendiri dapat mempersiapkan anak-anak menghadapi
tuntutan dunia kerja dalam kehidupan yang sebenarnya.

Ø 
Kegiatan murid-guru

Diadakan
diskusi antara murid dan guru untuk menolng anak-anak yang memerlukan
peningkatan dalam hal keterampilan khusus atau pemahaman. Melalui
diskusi-diskusi, murid dengan guru dapat mengumpulkan informasi penting
mengenai minat anak, sikap terhadap kegiatan membaca dan perkembangan dalam
keterampilan membaca dan keterampilan berpikir.

Diskusi murid dan guru tersebut hendaknya mengandung
hal-hal berikut:

1.     
Diskusi dapat difokuskan pada unsur-unsur bacaan,
konsep atau permasalahan yang ada dalam bacaan pengarang atau jenis karya
sastra.

2.     
Ajukan pertanyaan-pertanyaan yang menuju pada hal-hal
tertentu sehingga murid yang bersangkutan terlihat dalam kegiatan berpikir
tingkat tinggi (menganalisis, mensintesa dan mengevaluasi).

3.     
Membaca nyaring bagian bacaannya dipilih sendiri oleh
murid yaitu bagian yang dia sukai.

4.     
Diskusi difokuskan pada proses pemilihan kegiatan,
rencana untuk mengatasi hambatan penyelesaian tugas.

5.     
Saran untuk kegiatan membaca selanjutnga dan petunjuk
mengenai pengembangan ketermpilan.

6.     
Karakteristik sastra sebagai bahan ajar kemampuan
berbahasa.

Sebagai bahan ajar, sastra memiliki ciri khas yang
tidak dimiliki oleh bahan bahasa ajar yang lain, yaitu bahasa, struktur teks,
isi pesan, asfek kejiwaan yang ditumbuhkembangkan dan strategi perangkapan isi
teks yang diperlukan.

Bahasa teks sastra berciri kontatif
atau kiasan, dilihat dari aspek semantis yang dikandungnya, bersifat informal
bila dilihat dari segi bahasanya, banyak mengandumg majas, dan menonjolkan ciri
wacana narasi dan deskrifsi. Dilihat dari isi, teks sastra mengandung
pesan-pesan kemanusiaan, pesan-pesan ini bersifat tidak langsung.

Struktur  teks
sastra mengandung karakter/tokoh, alur, peristiwa, setting, dan sudut
penceritaan. Aspek kejiwaan meliputi daya nalar, kepekaan emosi, daya
imajinasi, perluasan wawasan dan daya kreasi. Daya nalar ditumbuhkembangkan
melalui pemahaman dan penghayatan terhadap permasalahan kemanusiaan dan
lingkungan hidup. Emosi ditumbuh kembangkan melalui penghayatan karakter tokoh
dan peristiwa-peristiwa kehidupan. Daya imajinasi ditumbuh kembangkan melalui
kegiatan berpikir asosiatif yakni mengasasikan peristiwa yang disuguhkan dalam teks
sastra yang dibacanya dengan peristiwa sehari-hari. Daya kreasi ditumbuh
kembangkan melalui kegiatan berpikir divergen (yang diarahkan untuk menumbuh
kembangkan kebersamaan dan kemampuan anak mengemukakan pendapat), kegiatan
berpikir rekreatif, dan kegiatan kreatif. Wawasan yang dimaksudkan disini
adalah berkembangnya wawasan anak yang diakibatkan oleh aktifitas belajar yang
telah dilakukannya.

Pembaca sastra memerlukan strategi
baca yang berbeda dengan strategi membaca teks-teks nonsastra, itu disebabkan
oleh bahasa sastra bersifat konotatif/kias, yang berarti pesan disajikan oleh
pengarang secara terselubung. Nilai-nilai yang terkandung dalam karya sastra,
yaitu nilai keindahan dan nilai moral akan meresap dan berkembang dalam diri
anak secara alami.

Karya sastra dapat menolong
anak-anak memahami dunia mereka, membentuk sikap-sikap yang positif, dan
menyadari hubungan dengan manusia. Lewat karya sastra anak-anak dapat
mempelajari dan memaknai dunia mereka misalnya dengan membaca karya sastra yang
melukiskan seorang anak yang sering menolong sehingga disayang oleh gurunya dan
teman-temanya, anak akan mengerti bahwa mereka harus bersikap seperti itu agar
banyak yang sayang.

2.3.Pemanfaatan
Bahan Ajar Sastra Bagi Penumbuhkembangan Kemampuan    Berbahasa

Pengajaran bahasa Indonesia
dimaksudkan untuk menyiapkan agar anak mampu berkomunikasi dengan bahasa
Indonesia dengan baik dan benar. Pengajaran yang demikian pada hakekatnya
adalah pengajaran yang dimaksudkan untuk membentuk kompetensi komunikasi. Kompetensi
ini memiliki empat unsur pokok yaitu pengetahuan dan penguasaan kaidah tata bahasa
baik fonologi, morfologi, sintaksis maupun sematik. Pengajaran apresiasi sastra
dengan bahan -bahan ajar sastranya, berfungsi sebagai wahana penbentukan
kompetensi komunikasi khusus kepada anak. Kompetensi yang dimaksud disini
adalah kompetensi komunikasi sastra dan kompetensi komunikasi bahasa yang lain
yang berarah emotif-imajinatif.

Pengajaran bahasa dengan bahan ajar
sastra mengajak anak untuk memahami karakteristik bahasa sastra sebagai salah
satu ragam bahasa Indonesia, dan karakteristik komunikasi sastra sebagai salah
satu bentuk komunikasi tulis bahasa Indonesia. Karakteristik komunikasi sastra
antara lain:

  1. Komunikasi ini bersifat tidak langsung
  2. Kehadiran penulis tidak dapat menggantikan
    kedudukan teks sastra yang ditulisnya
  3. Konteks komunikasi sastra berdimensi ganda
  4. Ada jarak antara realitas dalam teks dalam
    realitas kehidupan nyata dan antara teks sastra dengan penulisnya.

Pengajaran sastra dewasa ini dibagi dua golongan besar
yaitu:

  1. Pengajaran tentang sastra, pengajaran tentang
    sastra berisi teori-teori sastra.
  2. Pengajaran sastra beranggapan bahwa untuk
    mengapresiasi karya sastra siswa harus langsung dikenalkan dan diakrabkan
    dengan karya sastra.

Kegiatan
mengenal meliputi melihat, mendengar, menyimak, dan membaca. Kegiatan memahami
meliputi kegiatan menafsirkan, mengartikan, memproposikan, mencari hubungan,
menemukan pola, menarik kesimpulan dan menggeneralisasi.

Ø 
Kedudukan pengajaran sastra dalam
kurikulum 1994, dalam kurikulum 1994, tujuan dibagi atas:

v 
Tujuan umum pengajaran, yakni tujuan
yang harus dicapai oleh pengajaran bahasa dan sastra Indonesia.

v 
Tujuan khusus pemahaman, yakni
tujuan agarsiswa menguasai dan mengembangkan kemampuan-kemampuan reseptif.

v 
Tujuan khusus penggunaan, yakni
tujuan agar siswa menguasai dan mengembangkan kemampuan-kemampuan produktif.

Kemampuan apresiasi sastra tidak hanya untuk
meningkatkan kemampuan apresiasi itu sendiri, memahami dan dapat mengapresiasi
karya sastra Indonesia serta dapat mengkomunukasikan secara lisan dan tulisan.
Tetapi juga pengajaran lewat sastra, pengajaran sastra yang digunakan sebagai
sarana untuk mengembangkan kemampuan berbahasa dan mengembangkan kepribadian.

1.     
Pengembangan Pembelajaran
Membaca Berdasarkan Karya Sastra

2.     
Pendekatan untuk Meningkatkan Keterampilan Membaca

Menurut teori Schema, sering membaca
buku dengan jumlah banyak memungkinkan anak mengembangkan pengetahuan,
selanjutnya memudahkan mereka juga dapat bervariasi bacaannya. Mereka akan
memiliki apresiasi terhadap karya sastra dan kemumgkinannya mereka menjadi
pembaca sepanjang hidupnya (North, 1989: 426). Murid-murid perlu diberi
kesempatan untuk membaca karya sastra yang mereka pilih sendiri, di samping
kegiatan membaca dengan pengarahan guru. Pendekatan-pendekatan yang dapat
diterapkan antara lain membaca dalam hati dalam waktu yang relatif lama tanpa
diganggu, kelompok membaca.

  1. Model Pegembangan Keberwacanaan Melalui Sastra
  2. Model perencanaan pengembangan

Komponen-komponen pembelajaran yang
perlu direncanakan meliputi tujuan pembelajaran, bentuk dan sifat pembelajaran,
bahan pembelajaran serta prosedur pembelajaran (Norton & Norton, 1994:7).
Untuk merumuskan tujuan pembelajaran dapat menemukannya dari tujuan umum
pengajaran. Bentuk prmbelajaran dibedakan atas pembelajaran klasikal kelompok
dan individu. Agar efektif dibutuhkan kerjasama antara murid dan guru meliputi
kelompok kecil dan individu. Aktivitas ini dibedakan menjadi aktivitas jangka
pendek, jangka lama, dan aktivitas pojok belajar. Bahan pembelajaran meliputi
nama-nama buku, referensi, gambar-gambar pendukung media.

Ø 
Strategi pengembangan

Beberapa
strategi pengembangan dengan teknik utama latihan yang didasarkan pada uraian
Johnson (1987) dalam Literacy Through Literature, untuk mendukung agar
penerapan strategi bisa dilakukan diperlukan buku-buku sederhana dan menarik
agar anak mudah juga tertantang membacanya. Dalam memilih dan mengembangkan
latihan, peran guru adalah menjamin tersedianya bahan, yaitu menyajikan cerita
secara lisan dan melalui latihan membimbing dan memberikan bimbingan individu
pada siswa yang berusaha menerapkan latihan pada buku latihannya.

Ø 
Jenis strategi diantaranya yaitu:

  • Teknik Cloze
  • Ringkasan Model Burgs (RMB)

RBM dikembangkan dari prosedur klos
yang sudah lajim melalui dua cara; pertama   siswa belajar melalui ringkasan bukan dengan
teks asli, kedua kata-kata terpilih digantikan kata kosong awal kata, RBM juga
disajikan sebagai permainan.

·        
Tangga cerita (story ladders)

Tangga cerita dibciptakan dengan membuat ringkasan
cerita yang bagian akhir kalimatnya dihapus. Anak ditugaskan mengkreasikan
sendiri lanjutannya tapi bukan kalimat aslinya. Anak akan senang memprediksi
cerita sebelum membaca dan merevisinya setelah membaca.

·        
Teknik skala

Skala penilaian dikembanngkan dengan daftar pasangan
kata yang berlawanan seperti, baik/jahat, hangat/dingin, cepat/lambat dan
berat/ringan. Selanjutnya anak diminta menilai tokoh cerita dengan skala yang
dibuat oleh guru. Latihan ini dapat membantu siswa yang berekspresi dalam
tulisan.

2.4.Pengajaran
Sastra Indonesia

Pengajaran sastra Indonesia merupakan suatu sistem
yang didalamnya mengandung beberapa komponen, maka problematik yang ada dalam
pembelajaran sastra di SD dapat bersumber pada komponen-komponen berikut ini:

Sejak kurikulum SD 1975, kurikulum SD 1984, maupun
kurikulum SD 1994 seperti sekarang. Pelajaran sastra Indonesia selalu dimasukan
kedalam pengajaran bahasa Indonesia, khususnya di SD. Fungsi pelajaran bahasa
Indonesia adalah:

1.     
pembinaan kesatuan dan persatuan bangsa

2.     
peningkatan pengetahuan dan keterampilan bahasa
Indonesia dalam rangka pelestarian dan pengembangan budaya

3.     
peningkatan pengetahuan dan keterampilan bahasa
Indoneia untuk meraih dan mengembangkan ilmu pengetehuan teknologi dan eni.

Tujuam megenai sastra yaitu:

v 
Siswa mampu mengenal dan mampu membedakan
bentuk-bentuk puisi, prosa dan drama.

v 
Siswa mampu membedakan ragam bahasa sastra dan ragam
bahasa lainnya.

Ø 
Isi materi pelajaran

v 
materi pelajaran harus relevan terhadap tujuan
intruksional yang jarus dipakai

v 
materi pelajaran haru sesuai taraf kesulitannya dengan
kemampuan siswa

v 
materi pelajaran harus dapat menunjang motivasi siswa

v 
materi pelajaran harus membantu untuk melihat diri
secara aktif, baik dengan berpikir atau dengan mengadakan kegiatan

v 
msteri pelajaran harus sesuai dngan prosedur didaktik
yang diikuti

v 
materi pelajaran harus sesuai dengan media pengajaran
yang tersedia.

Dengan demikian apabila peran guru dan penilaian isi
materi pelajaran itu menyediakan bacaan yang bermutu, memberi kebenaran kepada
anak untuk memilih bacaan yang disukainya.

Guru memiliki peran yang sangat penting dalam
keseluruhan proses pengajaran satra di kelas, guru dituntut mampu melaksanakan
tugasnya secara propesional. Guru harus memiliki 10 kopetensi yaitu:

1.     
Kemampuan menguasai bahan materi bidang study.

2.     
Kemampuan mengelola program belajar mengajar.

3.     
Kemampuan mengelola kelas.

4.     
Kemampuan menggunakan media dan sumber.

5.     
Penguasaan landasan-landasan pendidikan.

6.     
Kemampuan mengelola interaksi belajar megajar.

7.     
Kemampuan menilai kemampuan siswa.

8.     
Pengenalan fungsi dan program layanan dan bimbingan
dan konseling di sekolah.

9.     
Pengenalan dan penyelenggaraan admisistrasi sekolah.

10.  Pemahaman
prinsip-prinsip dan penafsiran hasil-hasil penelitian guna keperluan
pengajaran.

Siswa merupakan komponen yang sangat
penting dalam pembelajaran sastra. Dalam pengajaran siswa di SD, problem yang
berkaitan dengan siswa yang dapat diidentifikasi antara lain motivasi minat
belajar sastra, serta lingkungan belajar siswa. Timbulnya motivasi dan minat
siswa belajar yang rendah tidak terlepas dari faktor lingkungan siswa, karena
lingkungan merupakan sarana yang sangat mempengaruhi dalam belajar sastra.
Tujuan utama pengajaran sastra hendaknya memberikan kesempatan pada siswa untuk
memperoleh pengalaman bersastra baik secara reseptif maupun secara produktif.
Siswa juga diberi pengetahuan tentang lukisan, lagu, melukis, selanjutnya
bersastra.

  • Bentuk kegiatan belajar mengajar

Kean & Personke (1976:341) mengarahkan bahwa
sebaiknya disekolah dasar, sastra jangan dipandang sebagai suatu subjek yang
harus di ajak terapi sebagai suatu wahana untuk mendapatkan pengalaman, yang
menyenangkan, menyedihkan, lucu, menakutkan dan lainnya. Dalam kegiatan belajar
ada 2 pendekatan; pertama bertitik tolak pada pandangan bahwa sastra mempunyai
kedudukan yang sama dengan bidang study yang lainnya; kedua bertitik tolak pada
pandangan bahwa sastra sebagai suatu yang kehadirannya untuk dinikmati

dan memberikan kesenangan. Karena kedua pendekatan itu
bertentangan untuk itu yang lebih sesuai adalah menggabungkan kedua pendekatan
tersebut karena muara terakhir pengajaran sastra adalah terbunanya apresiasi
& kegemaran terhadap sastra yang disadari oleh pengetahuan sastra dan
keterampilan bersastra.

·        
Sarana dan prasarana

Sarana dan prasarana merupakan
komponen pengajaran yang tak kalah penting. Perpustakaan dan kelengkapan
koleksi buku-buku sastra sangat menunjang kelancaran pengajaran sastra.
Demikian pula media dan alat-alat pengajaran yang lengkap sangat menentukan
keberhasilan pembelajaran sastra. Problem yang dapat di identifikasi adalah
sarana dan prasarana yang dimiliki sekolah-sekolah SD.

BAB III

PENUTUP

1.     
Kesimpulan

Seperti yang nyatakan sebelumnya bahwa
pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia mempunyai arti yang cukup penting. Poin
yamg lebih penting lagi di dalam pengajaran Bahasa dan Sastra Indonesia
terutama adalah membaca. Karena ketika kita duduk dibangku SD, hal pertama yang
harus dipelajari adalah membaca, kemudian kita akan dapat menulis juga
menghitung serta merangkai berbagai macam kalimat. Jika begitu kita akan dapat
membacakan karya-karya sastra. Sastra juga sarana yng diberikan untuk
mengembangkan kreatifitas anak di dalam pengajaran Bahasa dan Sastra Indonesia.

  1. Saran

Sebagai seorang calon pendidik ada beberapa hal yang
sapat kita lakukan diantaranya:

  1. Pendidik harus menggunakan bahasa Indonesia yang
    baik dan benar ketika memberikan pengajaran kepada anak didiknya.
  2. Pendidik harus memastikan bahwa anak-anak
    didiknya senang, suka, juga nyaman diajar oleh kita, agar mereka dapat
    menerima materi dengan baik dan tidak merasa terpaksa.
  3. Belajarlah terus agar menjadi guru yang
    profesional.

DAFTAR PUSTAKA

Rofi’udin, Ahmad dan Zuhdi, Darmiyati. 2002. Pendidikan
Bahasa dan Sastra Indonesia di Kelas Tinggi.
Malang : Penerbit Universitas
Negeri Malang.

Tyok. 2008. Membaca dan Sastra Anak. http://tyok-profilq.blogspot.com/membaca-dan-sastra-anak.

LAPORAN KERJA LAPANGAN

KATA KATA BIJAK BAHASA INGGRIS