in

Mengambil Barang-Barang dari Kamar Hotel

Ada cuplikan video tentang keluarga turis mengambil barang-barang dari kamar hotel di Bali. Keluarga turis ini diberhentikan sebelum pergi dengan mobil van. Saat digeledah oleh beberapa petugas hotel, ditemukan beberapa barang hotel. Turis laki-laki menyela sambil mengatakan mereka siap membayar. Namun petugas membalas “aku tahu kau punya banyak uang, tapi ini tidak hormat” Kejadian ini sebenarnya tidak mengejutkan saya dan bahkan mengingatkan saya pada sebuah keluarga asal Semarang.¬†

Sebuah keluarga asal Semarang terdiri dari bapak, ibu dan tiga anak laki-laki. Keluarga asal Semarang ini bukanlah keluarga kaya-raya namun gemar menginap di hotel-hotel yang berkelas di Surabaya dan Jakarta. Tak jadi masalah, siapapun berhak menentukan apa yang mereka mau. Lantas masalah ada di mana? Kembali ke cuplikan video tadi. Serupa tapi tak sama. Setiap kali menginap, mereka mengambil barang-barang dari kamar hotel. Semua handuk yang diberikan dibawa pulang. Ah, mungkin mereka tidak memiliki handuk sama sekali di rumah. Kemudian semua sarung bantal dilucuti untuk dibawa pergi. Berpikir positif saja, mungkin sarung bantal di rumah mereka sudah usang. Sprei putih dan selimut juga tak lupa diambil. Ingat, mungkin mereka kedinginan di rumah. Di kesempatan lain, mereka tidak melucuti sarung bantal lagi sebab bantal tersebut dibawa pergi. Wow, mereka benar-benar punya niat sekali.

Suatu hari mereka menginap di JW Marriot Surabaya. Di meja samping ranjang terdapat sebuah jam yang tampak anggun bercat emas. Jam itu tidak dapat dipindah sebab di dasarnya terdapat paku spiral yang menempel di meja. Heran bin ajaib, jam meja itu bisa dibawa pulang oleh keluarga Semarang ini. Si anak sulung mengatakan “jika kita menginap dan sudah membayar, maka barang-barang di hotel itu berhak kita bawa pulang” Tapi mereka juga terlalu pandai untuk membawa barang-barang yang berukuran jumbo dan berat seperti televisi atau sofa.

Setahu saya menginap di hotel berkelas itu diharuskan meninggalkan data kartu kredit si penginap. Apabila terjadi kehilangan atau kerusakan, pihak hotel berhak meminta ganti rugi dengan cara mendebit kartu si penginap. Dahulu, hotel-hotel berkelas di Surabaya tidak mengharuskan cara ini. Ini menjadi kesempatan bagi yang¬† penginap “berkarakter” seperti mereka.

Mengenang Pangeran Philip, Kisah Hidup Panjang Seorang Adipati Edinburgh

WNI Pria Yang Dibunuh Di Luar Negeri