in

Rohingya dan Sekian Kekerasan Terhadap Etnis Minoritas di Myanmar

Rohingya. Nama itu belakangan berseliweran kembali di beberapa pemberitaan menyusul tragedi kemanusiaan yang menimpanya. Diberitakan 30.000 warga Rohingya terpaksa mengungsi, dan merayakan Idul Adha di hutan menyusul terjadinya serangan besar-besaran oleh Tatmadaw atau militer Myanmar beserta nasionalis Buddha ke permukiman warga Rohingya di Rakhine. Serangan ini sebagai balasan atas perbuatan milisi Rohingya atau Arakan Rohingya Salvation Army (ARSA) pada 25 Agustus terhadap 30 pos keamanan. Alasan penyerangan yang dilakukan oleh milisi bentukan 2016 itu adalah pemerintah Myanmar yang berupaya mermaginalkan, mengusir, atau menghapuskan Rohingya dari Myanmar sejak berdirinya negara itu pada 1948. Apalagi berdasarkan konstitusi keetnisan Myanmar pada 1982, Rohingya tidak diakui sama sekali sebagai salah satu etnis di negara itu, dan dianggap sebagai pendatang ilegal dari Bangladesh.

Warga Rohingya
Reuters

Hingga kini konflik etnis bercampur agama ini terus berlangsung, dan mengundang perhatian banyak pihak yang kebanyakan mengecam tindakan pemerintah Myanmar yang membalas tindakan milisi dengan menyasar para penduduk sipil yang tidak tahu apa-apa. Apalagi ini konflik yang bukan kali pertama, dan terjadi di kala Myanmar tidak lagi diperintah oleh junta militer. Akibatnya, Aung San Suu Kyi, tokoh pro-demokrasi dan perdamaian di Myanmar, yang juga menjabat sebagai Menteri Luar Negeri dikecam karena dianggap diam dalam konflik ini. Apalagi dia adalah penerima Nobel Perdamaian.

washington post

Konflik yang dialami etnis Rohingya bisa dibilang merupakan konflik kesekian yang melanda etnis minoritas di Myanmar. Sebagai salah satu negara berdaulat di Asia Tenggara dan juga salah satu anggota ASEAN, Myanmar dalam sejarahnya selalu menghadapi konflik antar-etnis. Ini dikarenakan terlalu mendominasinya etnis Bamar di negara tersebut terutama dalam pemerintahan dan militer. Apalagi ketika negara ini bernama Burma. Nama demikian dianggap sebagai nama yang tidak netral karena hanya menggambarkan satu etnis saja. Padahal di Myanmar ada ratusan etnis sehingga pada 1989 nama Burma diganti Myanmar supaya terkesan netral. Tetapi tetap saja banyak yang mengkritik nama tersebut tetap mencerminkan etnis Bamar.

Kekerasan terhadap etnis minoritas dimulai ketika junta militer berkuasa di Myanmar sejak 1962. Junta yang dipimpin oleh Jenderal Ne Win berupaya memburmakan semua etnis di Myanmar. Hal itu tentu saja mendapat pertentangan apalagi sewaktu hendak merdeka pendiri Myanmar, Aung San, menegaskan penyatuan Myanmar dengan mengakui etnis-etnis selain Bamar melalui Kesepakatan Panglong pada 1947. Namun hal itu berubah setelah Aung San terbunuh.

President Ne Win
wikipedia

Selain Rohingya yang belakangan populer, tercatat beberapa etnis minoritas lain mengalami nasib yang sama sehingga harus mengungsi ke negara tetangga seperti Thailand. Yaitu, etnis Shan yang mendiami Negara Bagian Shan. Etnis ini beberapa kali melawan pemerintah Myanmar seiring diskriminasi yang dilakukan pemerintah negara tersebut. Sampai-sampai mereka mendirikan sayap tempur, Shan State Army, dan pemerintahan di pengasingan. Selain Shan, terdapat juga etnis Kachin yang memberontak terhadap pemerintah Myanmar. Etnis ini mendiami Negara Bagian Kachin, dan mayoritas adalah penganut Kristen. Hal ini yang membedakan mereka dari Bamar yang mayoritas Buddha sehingga sering didiskriminasi. Apalagi setelah Myanmar diperintah junta, banyak prajurit Kachin yang beragama Kristen dicopot dan digantikan Bamar sehingga mereka pun memberontak dan membentuk  sayap tempur bernama Kachin Independence Army. Selain Shan dan Kachin, kelompok lainnya adalah Karen, etnis minoritas terbesar di Myanmar yang mengusulkan pembentukan negara federal atau otonomi namun hal itu ditolak. Etnis ini juga beragama Kristen, dan karenanya banyak perwira Karen yang beragama tersebut digantikan oleh perwira Bamar yang beragama Buddha pada masa kemerdekaan Myanmar. Hal inilah yang membuat kecemburuan etnis sehingga mereka pun melawan pemerintah Myanmar hingga sekarang. Terakhir adalah Chin yang berada di Negara Bagian Chin. Mereka juga beragama Kristen sehingga kerap mendapat perlakuan diskiriminatif dari pemerintah Myanmar. Banyak yang kemudian mengungsi ke negara-negara lain seperti AS, Australia, Malaysia, dan Thailand. Selain masalah agama, masalah ideologi juga menjadi pertentangan. Salah satunya yang dilancarkan gerilyawan komunis selepas kemerdekaan terhadap pemerintahan junta militer yang fasis.

wikipedia

Meskipun begitu seperti yang sudah disebutkan etnis-etnis minoritas ini tetap diakui pemerintah Myanmar sehingga mereka tetap mendapat jaminan hidup dan tempat tinggal. Bahkan beberapa kelompok pemberontak telah mencapai kesepakatan berupa gencatan senjata semenjak berdirinya pemerintahan baru Myanmar pada 2011. Namun hal itu tidak berlaku bagi Rohingya yang tetap dianggap ilegal, dan bahkan juga ditolak di negara asalnya, Bangladesh.

Bali: Kisah Sebuah Pulau Unik di Indonesia

Timor Leste: Si Lusophone di Asia Tenggara