in

Stereotip Yang Biasanya Disematkankan Ke Orang Sa’dan

Stereotip Yang Biasanya Disematkankan Ke Orang Sa'dan

     Pasti kita sering dengar orang mengatakan kalo orang Tionghoa itu pelit-pelit, orang Batak itu berwatak keras, orang Manado itu cantik atau ganteng, dan orang Jawa itu lamban dan halus, atau dalam skala internasional, misalnya orang Arab itu bermuka teroris, orang Korea itu hobby oplas alias operasi plastik, atau orang Filipina itu jago nyanyi, dan lain-lain.
   
    Inilah yang di sebut dengan sebutan stereotip, yaitu penilaian atau pandangan terhadap seseorang hanya berdasarkan persepsi terhadap kelompok dari mana orang tersebut berasal, atau dengan kata lain menggeneralisasi semua orang dari asal yang sama. Beberapa stereotip itu sebenarnya mengarah ke diskriminasi.

    Dalam skala orang Toraja, stereotip pun sudah cukup lazim dalam kehidupan sehari-hari. Misalnya orang sering mengatakan kalo orang yang berasal dari La’bo itu  bicaranya lamban, orang Tondon itu berwatak keras, atau orang Sa’dan yang suka mantunu tedong.

     Di artikel kali ini, saya akan membahas khusus stereotip yang biasanya di sematkan ke orang Toraja yang berasal dari Sa’dan. Mari kita bahas:


Kurang disiplin ( sering telat)

     Jika orang Toraja secara umum di kenal sebagai orang yang tidak disiplin dan sering telat, maka itu berarti orang Toraja yang berasal dari Sa’dan lebih tidak disiplin dan lebih sering telat lagi. Tak heran, ada sebuah istilah yang cukup populer yakni “Marempa-rempa to Sa’dan”. Tapi, coba lihat di lingkungan kita apakah orang yang paling sering terlambat di kelas atau tempat kerja kita itu cuman orang dari Sa’dan? Tidak selamanyakan ? Orang yang kurang disiplin itu bisa berasal dari mana saja tanpa mengenal pengelompokan tempat asal atau pun suku. Ketidak disiplinan merupakan karakter pribadi yang di bentuk mulai dari kecil dan terbawa hingga dewasa. Jadi tidak ada sangkut pautnya dengan tempat asal sama sekali.


Aksen (logat) yang sangat kental

     Sebenarnya, hampir semua tempat di Toraja mempunyai aksen atau logat masing-masing yang berbeda. Namun entah mengapa aksen atau logat orang Sa’dan paling sering di jadikan bahan bercandaan. Terutama di kalimat “nya’umbua’na oda” kadang di tambah “go to school” di belakang. hahaha . Saking seringnya jadi bahan bercandaan, orang Sa’dan biasanya memilih menggunakan bahasa Toraja tanpa aksen. Atau dengan mengubah kata ” nya’ “menjadi  ” na’ ” dan “oda” menjadi “ora” .


Hobby Mantunu Tedong

       Stereotip ini yang paling melekat pada orang Sa’dan. Jika seseorang bertanya tentang asal, dan di jawab dari Sa’dan, maka dia akan bilang dengan sedikit ekspresi kaget  ” pantunuan” .Padahal,ini sepenuhnya tidak benar. Sa’dan, sama seperti daerah lain di Toraja, yang masyarakatnya terdiri dari berbagai latar belakang, baik dari segi ekonomi maupun strata sosial. Di Sa’dan, mungkin banyak orang yang kaya yang bisa melakukan pantunuan sampai puluhan, bahkan ratusan, namun tak sedikit pula yang untuk makan saja sudah susah apa lagi untuk mantunu tedong. Jadi, pikir-pikir dulu jika mau menjudge orang Sa’dan dengan stereotip ini.

        Itulah tiga stereotip yang sering di gunakan untuk menggambarkan orang Toraja asal Sa’dan. Bagaimanapun, karakter seseorang tidak bisa di nilai hanya berdasarkan tempat asal orang tersebut.

Sebenarnya masih banyak lagi stereotip yang biasanya disematkan pada orang Sa’dan, silakan tulis di kolom komentar di bawah jika Anda berkenan. Terima kasih

INFO TORAJA: Ciri-ciri Khas Orang Toraja

Hati-hati Penipuan Bantuan Yang Mengatasnamakan Bank Dunia Sudah Masuk Toraja